Jarang bagi
orang-orang di pinggiran kekuasaan negara – para peladang, orang bukit, para
perambah hutan, atau pun para petani di “pedalaman” pedesaan – yang tidak
menperoleh istilah yang mempunyai konotasi-konotasi stimagtisasi.
– James C. Scott (2009)
Sastra Using, dalam hal ini syair
lagu-lagu Banyuwangi, menyimpan dinamika gagasan-gagasan sosio-kultural-politik
dalam masyarakat Banyuwangi. Jika kita bentangkan seluruh periode penciptaan
lagu-lagu Banyuwangi kita akan menemukan suatu masa transisi antara angkatan
pra 65 dan pasca 65. Suatu periode pendek yang mungkin dapat dianggap sebagai
retakan atau jembatan atau sekaligus keduanya dari dua masa tersebut. Tulisan
ini dimaksudkan menyelami masa transisi yang setidaknya sampai saat ini agaknya
masih tertutup rapat. Berupaya membongkar kebungkamannya dengan melacak ke
belakang dan ke depan, serta meninjau kejadian-kejadian dan gagasan-gagasan
lain di luarnya yang mungkin memiliki hubungan dan mungkin dapat memberikan
penjelasan-penjelasan yang memadai dan mencerahkan.
Penemuan, pertumbuhan, dan
perkembangan sastra Using/Osing tidak bisa dilepaskan dari usaha-usaha
menegakan tuturan Using sebagai bahasa yang setara dengan bahasa-bahasa daerah lain,
semisal bahasa Jawa. Usaha menegakkan tuturan Using sebagai bahasa setidaknya
dimulai pada tahun 1970-an, dimulai dengan penyusunan buku Selayang-pandang Blambangan (1976).
Dalam buku yang disusun atas perintah Bupati Banyuwangi saat itu,
Kolonel Joko Supaat Slamet, telah dimuat suatu pernyataan tegas, “Sesungguhnya
dialek Jawa-Osing bukanlah dialek tetapi sudah dapat disebut sebagai bahasa,
yaitu BAHASA OSING”. Namun, usaha ini baru mendapatkan landasan “ilmiah”
melalui desertasi Suparman Herusantosa (1987) yang menyatakan bahwa baik bahasa
Jawa maupun bahasa Using mempunyai akar genealogis yang sama yaitu Bahasa Jawa
kuno tapi keduanya menempuh perkembangan dan pertumbuhan yang berbeda, oleh
karenanya bahasa Jawa dan bahasa Using mempunyai kedudukan yang sejajar.
Desertasi Suparman tersebut lantas menjadi semacam batu tumpu yang meyakinkan
bagi Hasan Ali, seorang budayawan Banyuwangi yang paling gigih dan boleh
dikatakan sebagai bidan kelahiran bahasa Using, untuk semakin bertekad
memperjuangkan tuturan Using sebagai bahasa. Peristiwa paling penting dalam
usaha menegakkan tuturan Using sebagai bahasa adalah pelaksanaan Sarasehan Bahasa
Using pertama pada tahun 1990 yang merupakan bagian dari penyelenggaraan Pekan
Bahasa Using. Pada sarasehan tersebut Hasan Ali mengajukan saran di bagian
akhir makalah yang pada intinya agar dilakukan kodifikasi dan “kampanye”
bahasa. Melalui usaha-usaha menegakkan tuturan Using sebagai bahasa, disadari
atau tidak, bersama itu pula ikut terjadi “etnisasi” Using yang meliputi
penggalian sejarah dan etno-kultural masa lalu guna dijadikan landasan
genologis sekaligus teladan yang membanggakan (penciptaan identitas
etno-kultural).
Asal-usul
sastra Using yang berfungsi sebagai salah satu sendi tegaknya gagasan dan
praktik dialek Using sebagai bahasa telah dicari oleh para pendukungnya hingga
ke Blambangan abad 17 dan menemukan Sritanjung,
Sudamala, dan Sang Satyawan
sebagai produk sastra Using kuno. Klaim terhadap ketiga sastra Jawa pertengahan
jenis kidung tersebut, saya duga, didasarkan pada pernyataan P.J. Zoetmulder
dalam Kalangwan (1974), “ Tempat asal-usul prototipe jenis ini
(kidung Sritanjung dan Sudamala) hendaklah kita cari di Banyuwangi . . .”
dan Ensiklopedi Indonesia (1987) yang
menyebut sastra aliran Banyuwangi dengan contohnya Sritanjung dan Sang Satyawan.
Begitu pentingnya keberadaan dan mutu asal-usul sastra Using membuat Hasan Ali
menepis pendapat sejumlah kalangan yang berpendapat bahwa kesusastraan
Blambangan secara jumlah dan mutu kurang. Dalam makalah Bahasa dan Sastra Using di Banyuwangi untuk Sarasehan Bahasa dan Sastra
Daerah Jawa Timur di Tulungagung tahun 1993, dengan berlandas pada pernyataan
B. R. Anderson mengenai abad kegelapan Jawa tahun 1500 – 1750 karena
peperangan, pembuangan, perampokan, pembantaian, dan kelaparan yang menyebabkan
serba terbatasnya pengetahuan akan kebudayaan Jawa Kuno, Hasan Ali menduga sebagian besar karya sastra aliran
Banyuwangi hancur karena peperangan berkepanjangan dari tahun 1316 – 1772 di
Blambangan. Di samping itu upaya guna mengangkat mutu asal-usul sastra Using
Hasan Ali dalam makalah yang sama juga
memberikan apresiasi yang tinggi pada syair gending-gending kuno Seblang dengan
mengatakan, “Ketika para pujangga
Angkatan Lama dan Pujangga Baru masih berleha-leha dengan pepatah-petitih,
pantun, gurindam, talibun, sonata dll., yang kemudian ‘diterjang’ oleh Chairil
Anwar dan teman-temannya se-Angkatan ’45, justru dalam kesusastraan Using sudah
ada Padha Nonton . . . yang dalam bentuk dan isi sama dengan yang dimaui oleh
Chairil Anwar”.
Bagaimanapun istilah Using/Osing
sebagai sebutan etnis untuk masyarakat “asli” yang menghuni ujung timur Jawa
dan dianggap pewaris dari kerajaan Blambangan tidak populer atau tidak
digunakan untuk menyebut diri orang Banyuwangi sendiri (persepsi diri) sebelum
abad dua puluh. Pada paruh awal abad dua puluh beberapa sarjana Belanda memang
telah menyebut Osinger/Jawa Osinger untuk masyarakat “asli” Banyuwangi. Tapi
tidak ada dokumen atau laporan yang menyatakan orang “asli” Banyuwangi sendiri
menyebut dirinya orang Osing/Using. Bahkan, John Scholte yang meneliti Gandrung
pada paruh kedua 1920-an menyatakan para pendatanglah yang menyebut orang
Banyuwangi sebagai orang Using. Sementara pada tahun 1930 seorang peneliti
Belanda yang menyebut dirinya “insider” melaporkan bahwa istilah Using berasal
dari Bali – “sing” – untuk menyebut orang Banyuwangi. Menurut “insider” istilah
Using tersebut bermakna “bukan manusia”. Ketika bahasa Using, sebagai gagasan,
mulai dibenihkan pada tahun 70-an, di majalah berbahasa Jawa, Mekar Sari (1974), Paman Goplang
memperingatkan agar tidak menyebut orang Banyuwangi sebagai Wong Using bila hendak berlaku sopan.
Dalam syair gending-gending kuno Seblang, yang dianggap sebagai sastra
lisan Using, juga tidak ditemukan istilah Using untuk menyebut masyarakat/orang
Banyuwangi/Blambangan. Syair gending-gending Seblang memang tidak memuat persepsi diri atau menyebut kelompok
masyarakat tertentu sebagai identitas etno-kultural. Orang-orang yang disebut
dalam gending-gending Seblang sering
dikenali dalam kaitannya dengan profesi, tahapan perkembangan manusia, dan
sapaan: tumenggung, demang, wong dodol kembang, lare (cilik), putra, mbok,
kakang. Tampaknya identitas etno-kultural bukan hal penting atau menggelisahkan
pada masa lalu. Sebagai contoh, pada perang Bayu (1771 - 1773), perang paling
menghancurkan di Blambangan, dua kelompok yang saling berhadapan dalam
peperangan tidak terbagi dalam dua kelompok etnis yang berbeda. Para pejuang
Bayu tidak hanya terdiri dari orang-orang Blambangan saja tapi juga terdapat orang
Bugis, Jawa, China, dan Bali. Begitupun di pihak lawan, terdapat serdadu Eropa,
Jawa, Madura, bahkan Blambangan.
“Kesadaran” akan identitas
sepertinya mulai tampak pada gending-gending (lagu-lagu) yang digubah pada masa modern. Namun identitas yang
dimaksud bukanlah Using, melainkan Blambangan atau Banyuwangi. Pada lagu-lagu
karangan Endro Wilis dan Muhamad Arief, keduanya dapat dikatakan pengarang
lagu-lagu Banyuwangian modern angkatan pertama, disamping Mahfud tentunya,
mulai terbentuk semacam identitas yang ditunjukan melalui perasaan menjadi
orang Blambangan atau Banyuwangi yang diungkapkan dengan menyebut-nyebut
Blambangan yang dikaitkan dengan diri sendiri dan orang lain yang sedaerah.
Namun demikian identitas yang tampak menonjol dalam syair-syair kedua pengarang
lagu tersebut lebih ditujukan untuk membangun solidaritas sosial tanpa terpenjara
ciri-ciri kedaerahan yang kental. Solidaritas dalam syair-syair tersebut tertuju
pada kondisi-kondisi ketertindasan dan ketimpangan secara sosio-ekonomi. Atau
mungkin lebih tepatnya dapat dikatakan berawal dari solidaritas kedaerahan dan
berakhir pada solidaritas terhadap ketertindasan dan ketimpangan yang diderita
oleh umat manusia seumumnya. Atau lebih tepat lagi tidak ada kebebasan dari
ketimpangan dan ketertindasan yang bisa dinikmati secara kadaerahan tanpa
kebebasan seluruh umat manusia. Pendeknya kebebasan seluruh umat manusia.
Contoh paling benderang dari ide tersebut adalah Rantag, lagu karangan M. Arief yang mengajak seluruh umat manusia
untuk bergandengan tangan menyongsong zaman baru. Berikut syair lagu Rantag
tersebut:
Wis wayahe wong podo tangi (Sudah saatnya
orang-orang semua bangun)
Ring wetan katon padang, ilange bengi (Di timur
tampak terang, hilangnya malam)
Wis rantag srengengene ganti madangi (Sudah terbit
matahari menerangi)
Iku tandane zaman wis ganti (Itu pertanda
zaman sudah berganti)
Podo guyup pemuda lan pemudi (Semua
bahu-membahu pemuda dan pemudi)
Ngajak wong sak donya dadi siji (Mengajak
manusia sedunia menjadi satu)
. . .
Sementara dalam syair lagu Emas-emas yang menyimpan kondisi-kondisi
kontradiktif hampir di sekujur tubuh syair, M. Arief menceritakan bagaimana
seorang petani yang banting tulang mengolah lahan yang subur namun tak mampu
lepas dari kemelaratan. Walaupun begitu, dalam kondisi serba sulit, petani
tersebut masih ikut berjuang. Berjuang dalam syair tersebut bukan hanya
berjuang untuk diri sendiri tapi juga untuk orang banyak atau untuk suatu
gagasan bersama. Kata “perandane
(walaupun begitu)” pada baris terakhir kutipan syair di bawah menjadi kata
kunci yang memisahkan sekaligus menghubungkan antara kondisi-kondisi individual
– kesulitan hidup karena dililit hutang – dan kondisi komunal yang dirujuk
dengan tindakan berjuang. Maksud
tersiratnya bisa jadi adalah kesulitan individual hanya dapat diselesaikan
dengan tuntas jika kesulitan komunal juga diselesaikan.
emak-emak saben dino nanduri pari (Ibu-ibu tiap
hari menanam padi)
mari
nggampung wong parine kari sejalang (Setelah panen padinya sisa sejalang)
emak bapak nyaur utang sing mari-mari (Emak bapak
bayar hutang tak selesai-selesai)
perandane
bapak mageh sanggup berjuang (Walaupun begitu bapak masih sanggup berjuang)
.
. .
Dalam lagu Emas-emas ini, yang bagian awal syairnya melukiskan bagaimana musik
angklung Banyuwangi dinikmati dan mengekspresikan suasana kerja, tampaknya
produk kultural (seni musik angklung) menjadi bagian organik dari kerja
produktif manusia. Barangkali cara menikmati musik angklung dalam lagu ini
dapat dibandingkan dengan bagaimana budak-budak kulit hitam pemetik kapas di
Amerika pada masa perbudakan menikmati blues
untuk mengekpresikan suasana kerja di ladang-ladang kapas milik para tuan tanah
kulit putih. Suatu kebudayaan yang belum lagi dilepaskan dari tubuh. Sikap
terhadap kebudayaan semacam ini kita juga bisa lacak dalam lagu-lagu Endro
Wilis. Produk-produk kultural berupa ragam kuliner Banyuwangi menjadi tema
dalam beberapa lagu karangan Endro Wilis, seperti Pelasan Sempenit dan Pindhang Koyong. Dalam syair dua lagu
tersebut ragam kuliner bukan hanya menjadi kehadiran simbolik dari produk kultural
daerah yang membanggakan atau sekedar menjadi semacam salah satu “land mark”
kultural daerah. Pelasan Sempenit
disuguhkan sebagai suatu hidangan “hidup” yang tidak terpisahkan dengan
aktivitas produksi, relasi antar individu, dan simbol dari identitas
sosio-politik-kultural (kawula alit). Syair Pelasan
Sempenit ini menceritakan petani yang dikirim sarapan oleh istrinya di
sawah. Lihatlah! Alangkah girangnya sang istri berangkat mengirim sarapan
kepada suaminya, “Bibiq ngirim paman
lambeyane membat mayun!”. Walaupun matahari sudah mulai terasa panas namun
hati masih musim hujan, “Serngengene wis
mangkat kerasa panas, tapi ati seger, jeh, musim rendheng!”. Begitupun
dengan paman tani saat tahu sang istri mengirim sarapan. Ia begitu girang “eseme meledhung”. Apalagi tahu kalau
sang istri membawa lauk pelasan sempenit, “Paman
terus ngibing, meluk bibiq kang meh tiba”. Alangkah! Kegembiraan yang
sangat sederhana. Kegembiraan yang mampu “dibeli’ oleh siapapun. Begitupun
dengan syair Pindhang Koyong yang
menceritakan ketaksabaran seorang anak untuk segera bisa menikmati masakan
pindhang koyong emaknya. Namun, kegembiraan sederhana dalam syair lagu-lagu
Endro Wilis tersebut segera hilang manakala berhadapan dengan kondisi-kondisi
yang diakibatkan oleh praktik penghisapan. Sirnanya kegembiraan digantikan oleh
kemarahan yang diekspresikan secara lugas seperti dalam syair lagu Segara. Dalam syair lagu Segara kegigihan menghadapi tantangan alam yang
diekspresikan dengan “sun adepi beboyo,
angin lesus prahara” dan kegembiraan kerja menunggang gelombang yang
diekspresikan dengan ibarat “anak nong
gendongan” akhirnya lenyap ketika hasil kerja banting tulang harus tumpah
di tangan juragan yang dikiaskan sebagai “setan
laut”. Dalam syair lagu-lagu karangan Endro Wilis dan M. Arif produk kultural – baik itu ragam musikal
ataupun ragam kuliner – dan aktivitas produksi tak terpisahkan dari dinamika
kehidupan sehari-hari dan mempunyai dimensi yang lebih luas dalam kaitannya
dengan relasi produksi, relasi dengan orang lain, dan relasi dengan alam.
Budaya yang demikian itu, budaya yang tak terpisahkan dari tubuh, adalah budaya
yang juga tak terpisahkan dari politik. Di sini politik hendaknya tidak
dimaknai sebagai tindakan kotor yang lazim kita dengar di mana-mana saat ini. Namun politik sebagai
seni memperjuangkan kebajikan bersama. Oleh karenanya identitas dalam syair
lagu-lagu M. Arief dan Endro Wilis bukanlah identitas etno-kulutral. Identitas
dalam lagu-lagu dua pengarang tersebut adalah identitas sosio-politik. Tak mengherankan
kiranya syair lagu-lagu dua pengarang tersebut juga banyak menceritakan “orang
kecil” dengan maksud membongkar hubungan timpang (kontradiktif) dalam relasi
produksi.
Namun kecenderungan syair lagu-lagu
Banyuwangian dengan ciri-ciri seperti di atas pada akhirnya terhenti. Kemelut
politik 65 yang berskala nasional menggulung hampir seluruh lapangan kesenian
di Banyuwangi. Aktivitas bermusik boleh dibilang pingsan sebelum Bupati Kolonel
Joko Supaat Selamet mengembalikan kembali gairah bermusik dan berkesenian lainnya
di Banyuwangi. Tapi musik Banyuwangi tidak sama lagi. Kata Bernard Arps (2009),
“In
the early 70s, under the regent of the New Order, the genre of Banyuwangi music
was revived – in a raddically different political context and without
‘Genjer-Genjer’ . . . (Pada awal 70-an, di bawah bupati pertama masa Orde
Baru, genre musik Banyuwangi dibangkitkan lagi – dengan suatu konteks politik
yang berbeda secara radikal dan tanpa ‘Genjer-genjer’. . .)”.
Tahun 70-an barangkali merupakan
tahun-tahun penting dalam kebijakan poltik kultural Orde Baru. Pada periode
itu, disamping kampanye anti komunis yang masif yang berlangsung selama puluhan
tahun, pemerintah juga direpotkan dengan apa yang disebut westernisasi budaya. Pengaruh budaya barat (hippies) yang ditandai dengan gaya hidup anak muda yang suka teler dan rambut gondrong – mesti
diingat juga bahwa gerakan kaum hippies
bukan hanya gaya hidup urakan, tapi
juga gerakan politik yang salah satunya adalah gerakan anti perang – dianggap
membahayakan karena meracuni anak muda dengan obat-obatan terlarang, sex bebas,
dan – paling penting – mendorong anak muda untuk bersikap tidak hormat bahkan
membangkang pada orang tua. Hal yang terakhir itu menjadi paling penting sebab
secara tidak langsung sikap tersebut merusak hubungan yang dilandasi oleh sikap
hormat dan patuh antara orang tua (bapak) dan anak yang merupakan idealisasi
dari hubungan pemerintah (presiden sebagai bapak) dan rakyatnya (sebagai anak).
Guna membendung pengaruh buruk dari westernisasi
yang dianggap bertentangan dengan kepribadian bangsa tersebut pemerintah
melakukan beberapa kebijakan politik antara lain revitalisasi nilai-nilai
tradisi yang secara monumental disimbolkan dengan pembangunan Taman Mini Indonesia
Indah (TMII) dan razia rambut gondrong yang menggelikan. Pada tahun itu juga
Presiden Soeharto mengunjungi Banyuwangi di Tapanrejo (Muncar) dan disuguhi
dengan musik angklung. Konon Soeharto merasa terkesan dengan kesenian angklung
Banyuwangi dan bertanya kepada Bupati apakah kesenian ini sudah ada dari dulu
dan dimainkan PKI? Bupati mengiyakan jika musik angklung sudah ada sebelum PKI.
Lantas Soeharto berpesan agar musik angklung “dimurnikan” kembali dan
dibersihkan dari pengaruh komunis.[1]
Maka jadilah Bupati Supaat kembali menghidupkan musik angklung Banyuwangi yang
sempat pingsan dihantam kemelut politik. Penyusunan buku Selayang-pandang Blambangan yang diniatkan untuk menghimpun data
historis dan etnografis sangat mungkin tidak lepas dari pengaruh kebijakan
politik kultural Orde Baru semacam ini.
Peristiwa politik 1965 membekaskan
sejarah kesenian yang pahit di Banyuwangi. Bukan hanya stigmatisasi Genjer-genjer dan lagu-lagu semasanya.
Peristiwa kelam tersebut juga merenggut seniman musik M. Arief yang sampai
sekarang tidak diketahui nasibnya. Sementara Endro Wilis harus merasakan
dinginnya lantai penjara Lowokwaru, Malang. Peristiwa tragis yang merenggut
ribuan bahkan ada yang menyebut jutaan nyawa dan sekian penghilangan manusia
tersebut direkam dalam syair lagu karangan Endro Wilis, Mbok Irat. Lagu yang dikarang pada saat Endro Wilis bertugas dalam
dinas ketentaraan (masa konfrontasi Indonesia – Malaysia) di Sanggau,
Kalimantan Barat tersebut mengekspresikan kecemasan terhadap anggota keluarga
yang tidak ada berkabar. Mari kita simak beberapa baris syair lagu tersebut:
Mbok Irat riko nong kutha, apuwa sing
mulih-mulih
Wis suwe nono kabare, emak bapaq yara
anten-antenan
. . .
. . . mugo-mugo aja katut aratan
Ring kutha jare geni ngamuk, wong mati
kobong saq dalan-dalan
. . .
Terjemahannya:
Kakak
Irat kamu dikota kenapa tidak kunjung pulang
Lama
sudah tidak ada berkabar, ibu bapak menunggu-nunggu
.
. .
.
. . semoga tidak kena pageblug
Di
kota katanya api mengamuk, orang mati terbakar berkaparan di jalanan
Hal menarik lain dari lagu ini adalah di bagian bawah lembar kertas
dimana lagu ini ditulis dibubuhkan catatan peringatan: “Syair aslinya sudah dihancurkan oleh kawan yang . . . (diganti total
tanpa idzin!) / tidak bisa menghargai hak pribadi orang lain. / Maka sekarang
saya buat sya’ir baru ini dan saya nyatakan bahwa sya’ir yang di luar ini
adalah pelanggaran!!”. Jadi pada dasarnya syair yang dikutip di sini
adalah syair baru yang ditulis ulang di Banyuwangi,
26 – 4 – 1996, sedangkan syair lama yang ditulis di Sanggau, Kalimantan Barat, 3 – 10 – 1965 sudah hancur (tulisan
miring dikutip dari tarikh penulisan syair di pojok kanan atas lembar lagu tersebut).
Ada dua pertanyaan: Siapa teman yang menghancurkan syair Mbok Irat? dan Kenapa syairnya dihancurkan? Saya tidak memperoleh
jawaban untuk dua pertanyaan tersebut. Tapi apa yang menimpa Endro Wilis
seperti hal di atas bukan sekali ini. Beberapa lagu Endro Wilis dikasetkan
tanpa menyertakan nama pengarangnya atau diklaim sebagai karangan orang lain
dan ada juga syair lagu lainnya yang diubah tanpa sepengetahuannya. Sedangkan
lagu yang semula berjudul Selendang Abang
yang menceritakan momen perpisahan antara sepasang kekasih karena sang pria
harus pergi berperang diganti menjadi Selendang
Sutra, diduga karena abang
(merah) identik dengan komunis.
“Penghancuran” syair lagu Mbok Irat di atas seperti menjadi simbol
dengan apa yang terjadi pada nasib lagu-lagu Banyuwangi yang dikarang sebelum
65 dan kecendrungan arah politik kultural apa yang akan ditempuh oleh lagu-lagu
Banyuwangi pasca 65. Hampir seluruh lagu-lagu yang ditulis pra 65 menghilang di
Banyuwangi. Walaupun mungkin tanpa pelarangan formal namun kasus Genjer-genjer rupanya telah menjadi
stigma yang traumatik bagi masyarakat Banyuwangi. Akibatnya masyarakat
Banyuwangi tidak lagi berani menyanyikan lagu-lagu yang dikarang pra 65 karena
stigma komunis atas lagu-lagu dan para pengarangnya. Sementara itu, penulisan
syair lagu-lagu pasca 65 bagaimanapun tidak dapat dilepaskan dari kebijakan
politik kultural yang digariskan Jakarta yang di Banyuwangi mewujud dalam
penyusunan buku Selayang-pandang Blambangan
yang diikuti oleh tumbuhnya cita-cita kebahasaan bersama etnisasi Osing yang
membayang-bayanginya.
Syair lagu-lagu yang ditulis pasca
65 oleh pengarang-pengarang lagu angkatan kedua adalah syair-syair yang
menyokong gagasan etnisasi. Sebagaimana dalam proses tahapan-tahapan penegakan
tuturan Using sebagai bahasa yang dideskripsikan oleh Arps. Tahun 70-an
merupakan tahap transformasi yang dalam proses penegakan bahasa adalah tahapan
pencarian dan penemuan landasan ilmiah serta konsep-konsep perumusan kodifikasi
beserta strategi-strategi kampanye dan aktivitas-aktivitas strategis, sementara
dalam lagu-lagu terjadi “depolitisasi” dalam syair. Dalam syair lagu-lagu
Banyuwangi yang ditulis oleh para pengarang pasca 65 kita tidak lagi menemukan
keberpihakan yang terbaca jelas-jelas dalam syair-syair pra 65. Segala produk
kultural di Banyuwangi yang menjadi tema lagu-lagu pasca 65 disuguhkan tanpa
terkait dengan dinamika kehidupan sehari-hari, namun dihidangkan sebagai
kekhasan daerah yang membanggakan seperti dalam lagu Rujak Singgul, “Sing koyo
nong Banyuwangi, rujak akeh maceme (Tidak seperti di Banyuwangi, rujak
banyak ragamnya)”. Dalam lagu tersebut Banyuwangi dianggap sebagai peta
kultural tersendiri (khas) yang berbeda dari daerah-daerah lain. Di sini syarat
umum dari suatu identitas etno-kultural sebagai yang khas dan memandang
kelompok lain sebagai yang berbeda mulai tampak. Dalam hal ini, yang dimaksud
“depolitisasi” syair lagu-lagu tersebut di atas bukan berarti tidak bersifat
politik sama sekali, namun politik diarahkan sebagai aktivitas-aktivitas
perjuangan kultural. Kulturalisasi politik semacam itu menggeser prioritas
perjuangan dari menghapuskan ketimpangan sosio-ekonomi yang disebabkan oleh
praktik penghisapan dan ketidakadilan dalam penguasaan sumber daya alam atau
sumber-sumber ekonomi menjadi perjuangan untuk mendapatkan pengakuan identitas
(etnik).
Sebagaimana telah dibahas di awal
tulisan ini, penciptaan identitas etno-kultural Using dilaksanakan dengan
penggalian sejarah kultural masa lalu yang berfungsi sebagai genesis sekaligus teladan yang
membanggakan. Oleh karenanya, kemudian, sejarah kerajaan Blambangan “terpilih”
diangkat ke permukaan dan dikaitkan dengan karakteristik identitas
etno-ideologis Using yang diidealisasikan. Maka, pertempuran-pertempuran yang
heroik, seperti perang Bayu yang lambat-laun menjadi ikonik, diklaim sebagai
tindakan-tindakan leluhur Using yang membanggakan. Watak heroik, yang pada
mulanya digali dari peperangan-peperangan tersebut, selanjutnya menjadi semacam
salah satu nilai baku karakteristik Using. Syair beberapa gending kuno Seblang, sebagai warisan sastra lisan
Using, tak luput dari tafsir heroik semacam itu. Mari kita simak salah satu
syair gending Seblang yang mendapatkan tafsir heroik:
Podo
Nonton
Podo nonton pudak sempal ring lelurung
ya pandite
Yo pudak sempal lambeyane para putro.
Para putra kejala ring kedung lewung ya
jalane ya
Jala sutra ya tampange tampang kencana.
Kembang menur melik-melik ring bebentur.
Sun siram siram alum sun petik mencirat
ati.
Lare angon gumuk iku paculana.
Sun tanduri kacang lanjaran saunting
ulih perawan
Tafsir-terjemahannya sebagai
berikut:
Sama Menyaksikan[2]
Sama-sama
menyaksikan
Bunga
pudak (lambang rakyat kebanyakan)
Rebah
di jalan-jalan
Yang
keadaannya (seperti) bunga pudak.
(Yang
lunglai) ayunan tangannya (karena kerja paksa/rodi)
Para
putra (Blambangan)
Telah
terjebak di kedung kebingungan
Oleh
jala sutra (kompeni)
Yang
rantainya, rantai kencana (yang berupa bujukan)
Kembang
menur (wanita-wanita Blambangan)
Tampak
mungil di sudut halaman.
Disiram
(semangat) tetap layu
Dipetik
menyentuh hati (perasaan).
Anak
gembala (pejuang-pejuang Blambangan)
Cangkuli
bukit-bukit itu (dengan semangat perlawanan)
Tanami
kacang lanjaran (sampai ke mana-mana)
Seikat
dapat anak perawan (kemenangan).
Bagaimana mungkin upacara ritual Seblang yang, jika benar seperti yang
dikatakan oleh Achmad Aksara, termasuk upacara ritual Hindu yakni Butha Yadnya (upacara kurban untuk
kekuatan alam) ditafsir menjadi ekspresi perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda?
Watak heroik sebagai salah satu
karakteristik identitas etno-kultural Using mendapatkan gemanya yang panjang
dan berulang-ulang dalam syair lagu-lagu Banyuwangi pasca 65. Kita bisa
menyebut banyak lagu pasca 65 yang syairnya berwatak heroik. Namun lagu berwatak
heroik paling ikonik dengan irama dan syair yang menggugah dan
memanggil-manggil adalah lagu yang dikarang oleh BS. Noerdian dengan syair yang
ditulis oleh Andang Cy., Umbul-Umbul
Blambangan. Lagu ini adalah contoh paling tepat bagaimana gagasan identitas
etno-kultural Using mengekspresikan nilai patriotik-heroik dan menggambarkan
asal-usulnya. Dalam syair Umbul-Umbul
Blambangan tokoh-tokoh historis dan fiktif berkelindan membentuk nilai
heroik dan genesis identitas
etno-kultural Using. Berikut petikannya:
Ganda arume
getih Sritanjung
(Aroma harum darah Sri Tanjung)
Ya magih
semembrung
(Masih semerbak)
Pamuke satriyo
Minak Jinggo
(Keberanian satria Minak Jingga)
Ya Magih murub
ning dhadha
(Masih nyala di dada)
Magih kandel
kesaktenane
(Masih tebal kesaktiannya)
Tawang Alun lan
Agung Wilis
(Tawan Alun dan Agung Wilis)
Magih murub
tekade Sayu Wiwit
(Masih nyala tekad Sayu Wiwit)
Lan Pahlawan
petang puluh lima
(Dan Pahlawan empat puluh lima)
Barangkali tokoh, dari sekian tokoh
yang disebut di atas dan dianggap menjadi leluhur Using, yang paling menarik
adalah Minak Jinggo. Dalam kisah langendriyan bagi orang-orang luar Banyuwangi
Minak Jinggo adalah tokoh antagonis dan buruk rupa. Namun untuk identitas
etno-kultural Using Minak Jinggo adalah tokoh pahlawan yang gagah berani.
Sebagaimana dalam beberapa syair lagu pra 65, dalam Umbul-umbul Blambangan ini juga digambarkan keadaan alam
Banyuwangi/Blambangan yang kaya dan subur. Namun, jika dalam syair pra 65
keadaan alam yang subur tidak berbanding lurus dengan kondisi rakyatnya, malah
sebaliknya, kontradiktif, tidak demikian dengan syair lagu Umbul-umbul Blambangan. Seperti dalam banyak syair lagu-lagu pasca
65 lainnya, syair lagu tersebut melukiskan rakyat yang giat bekerja tanpa ada
masalah dengan kondisi sosio-ekonominya. Satu-satunya potensi ancaman yang
hadir dan bertekad akan dihadapi dalam lagu ini barangkali adalah ancaman
terhadap eksistensi kultural, “Hang
sapa-sapa bain (Barang Siapapun) / Arep
nyacak ngerusak (Berniat coba merusak) / Sunbelani, sundhepani sunlabuhi (Kubela, kuhadapi kujuangi)”. Watak
heroik yang kental dan lebih jelas terhubung dengan karakteristik identitas
ethno-kultural Using adalah lagu karangan BS. Noerdian dengan syair ditulis
Andang, Cy., Isun Lare Using yang seolah merupakan suatu proklamasi
kualitas-kualitas keusingan. Sebagaimana Umbul-umbul
Blambangan syair lagu inipun merepresentasikan watak identitas yang
diturunkan dari leluhur sejak zaman Blambangan. Berikut adalah dua bait
terakhir Isun Lare Using:
Jemlegur meriyem kompeni (Berdentam
meriam kompeni)
Alas Bayu karang abang (Hutan Bayu
terbakar)
Lo Pangpang Mberanang (Lo Pangpang
memerah)
Selebrang dudu kembang (Kemerlap bukan
kembang)
Getih kutah kembang-kembang (Darah tumpah
menyimbah ruah)
Mbah buyut mati perang (Leluhur mati
perang)
Gantine sepirang-pirang (Penggantinya
melimpah ruah)
Isun lare using (Aku teruna
using)
Tau gilig tau gepeng (Pernah remah
pernah gepeng)
Dijajah ambi Landa (Dijajah oleh
Belanda)
Disiksa serdhadhu Jepang (Disiksa
serdadu Jepang)
Taping magih bisa ngelawan (Tapi masih
bisa melawan)
Lan menang ngerebut kemerdekaan (Dan menang
merebut kemerdekaan)
Identitas apapun tidak jatuh dari
langit tapi hasil dari konstruksi sosial. Menurut James C. Scott, “ Quite often such identities, particularly
minority identities, are at first imagined by powerful states . . . (Kerapkali
identitas-identitas, terutama identitas minoritas, pada mulanya dibayangkan
oleh negara yang berkuasa . . .)”. Dalam hal ini, Using/Blambangan – jika ia adalah
sebuah identitas yang terbentuk pada jaman lampau – sangat mungkin adalah hasil
dari pembayangan dari dua kerajaan yang lebih kuat yang mengapitnya; kerajaan
Majapahit/Mataram dan kerajaan-kerajaan di Bali. Sebagai wilayah pinggiran yang
diperebutkan oleh dua kerjaan besar di sebelah Barat dan Timurnya, wilayah
Blambangan secara politik labil. Sementara, karena wilayahnya yang jauh dari
pusat kerajaan induk (Majapahit/Mataram) dan adanya halangan alam yang
menyulitkan untuk dilakukan kontrol politik terus menerus secara langsung
membuat wilayah Blambangan berpotensi manjadi semacam daerah “suaka” bagi para
pelarian politik, buron, para penghindar pajak dan wajib militer. Jarangnya
kontrol politik secara langsung tersebut membuka peluang bagi orang kuat lokal
untuk menahbiskan diri menjadi pemimpin atau raja dan juga membuka kemungkinan
terjadinya pembangkangan-pembangkangan menentang kerajaan induk. Perilaku
memberontak inilah yang mendorong kerajaan induk melakukan
penghukuman-penghukuman, baik secara militer maupun secara kultural. Kita tahu
beberapa kali Mataram melakukan serangan militer yang menghancurkan dan
mengangkut ribuan penduduk Blambangan ke Mataram. Bali juga beberapa kali
melakukan tindakan-tindakan penghukuman dan yang paling brutal adalah
pemanggilan dan dibunuhnya Pangeran Pati di pantai Seseh. Sementara secara
kultural Blambangan yang bukan Islam dan juga bukan Hindu yang mempunyai
struktur kasta dalam masyarakatnya seperti Bali adalah kelompok masyarakat yang
dianggap tak beradab (barbar). Di atas kita sudah membahas, melalui
“insider”, mengenai istilah Using yang
bermakna “bukan manusia”. Sementara Mataram menstigma masyarakat Blambangan
secara simbolik melalui tokoh Minak Jinggo yang berwatak berangasan, doyan
mabuk, berwajah semirip anjing, berkaki timpang, dan sengau. Bahkan sisa-sisa
stigma ketakberadaban tersebut sampai sekarang kerap kita dengar, semisal kota
santet (ilmu hitam yang berfungsi mencelakai orang lain dan praktik
perdukunannya sering dianggap bertentangan dengan agama). Hal yang perlu
diingat adalah bahwa ketakberadaban tersebut berasal dari prespektif kerajaan-kerajaan
yang lebih kuat.
Hal menarik dari penemuan Using di
masa modern adalah Using modern merupakan antitesis Using kuno.
Penggonstruksian Using modern seolah merupakan upaya menyangkali Using/Blambangan
kuno dengan memenuhi kekurangan-kekurangan kulturalnya dan sekaligus berupaya
berakar kepadanya. Kekurangan-kekurangan kultural tersebut diukur dengan
standar identitas yang justru dimiliki oleh budaya-budaya kerajaan yang
menstigmatisasinya. Jadilah kemudian Using modern menambal
kekurangan-kekurangan kulturalnya dengan usaha pembakuan adat-istiadat daerah,
pembakuan pakaian daerah, mendaftar jenis-jenis kesenian dan ragam kuliner,
mendaftar hasil sastra, dan terutama perjuangan untuk mendapatkan pengakuan
status bahasa, serta yang terakhir adalah keberaksaraan. Oleh karena identitas
etno-kultural membutuhkan genesis
(asal-usul) yang sesuai maka beberapa sejarah kultural Using/Blambangan kuno
harus disesuaikan dengan identitas etno-kultural Using yang diidealisasi.
Tafsir heroik beberapa syair Seblang
dan pemosisian kesenian Gandrung sebagai bagian dari siasat gerilya adalah
hasil dari penyesuaian-penyesuaian ini. Dalam hal penyesuian-penyesuaian ini
syair lagu-lagu pasca 65 memainkan peran penting dalam menyebarkan idealisasi
identitas etno-kultural Using ke khalayak.
Pada akhirnya, didorong oleh rasa
khawatir akan terjadi salah paham atas tulisan ini, saya akan mengutip
pernyataan James C. Scott yang saya sepakati. “Apakah diciptakan atau dipaksakan, identitas-identitas memilih, kurang
lebih secara arbiter, satu atau banyak watak, walau samar-samar – agama,
bahasa, warna kulit, pola makan, mata pencaharian – sebagai hal yang
dikehendaki (desiderata). Kategori-kategori tersebut, yang terlembagakan dalam
teritori, pemilikan tanah, istana, hukum adat, tetua-tetua yang ditunjuk,
sekolah-sekolah, dan berkas-berkas tertulis, bisa menjadi identitas yang dihidupi
sepenuh keyakinan. Apabila identitas tersebut distigmatisasi oleh negara atau
masyarakat yang lebih besar, mungkin banyak orang menjadikani identitas
tersebut untuk menentang dan memberontak. Di sini penemuan identitas berpadu
dengan peneguhan diri yang heroik, di mana identifikasi tersebut menjadi
lencana kehormatan”.
*
* * * *
Daftra Pustaka
-
Aria Wiratma Yudhistira, Dilarang Gondrong!, Tangerang: Marjin
Kiri, 2010
-
Bernard Arps, Osing Kids and the
banners of Blambangan, Ethnolinguistic
identity and the regional past as ambient themes in an East Javanese town, dalam Wacana Vol.11 No.1 (April 2009)
-
Terwujudnya Bahasa Using di Banyuwangi dan
Peranan Media di Dalamnya, dalam Mikihiro Moriyama dan Manneke Budiman Ed.,
Geliat Bahasa Selaras Zaman, Tokyo University for Foreign Languange, 2010

-
Endro Wilis, Istilah ‘Using’ adalah Racun yang Melumpuhkan Jiwa, Lembar Kebudayaan 10, Maret 2010.
-
Hasan Ali, Bahasa dan Sastra Using di Banyuwangi, makalah untuk Sarasehan
Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Timur di Tulungagung, 13-14 Nopember 1993
-
Hasan Basri, Sekilas Tentang Sastra Using Banyuwangi, Makalah untuk Sarasehan
Pemanfaatan Potensi Kebahasaan dan Kesastraan dalam Rangka Pembinaan dan
Pembangunan Bahasa dan Sastra Daerah, 20 Juni 2010
-
I Made Sudjana, Nagari
Tawon Madu, Larasan-Sejarah, 2001
-
Indriyanto, Kebangkitan
Tari Rakyat di Daerah Banyumas (The Resurgence of Folk Dances in Banyumas), Harmonia
Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni, Vol.2 No.2/Mei – Agustus 2001
-
James C. Scott, The
Art of Not Being Governed, An Anarchist History of Upland Southeast Asia,
Yale University Press, New Haven & London, 2009
-
P.J. Zoetmulder, Kalangwan, Penerbit Djambatan, Jakarta 1983
-
Setya Yuwana Sudikan, M.A., Sastra Using di Banyuwangi, makalah
untuk Seminar Bahasa Using
-
Sri
Margana, Melukis Tiga Roh: Stigmatisasi
dan Kebangkitan Historiografi Lokal di Banyuwangi, makalah untuk Konferensi
Nasional Sejarah IX, Jakarta, 5 – 7 Juli 2011
-
Suripan Sadi Hutomo, Tembang Mahisa Langit? Orang Banyuwangi
Masih Ada yang Ingat?, Surabaya Post, 10 Maret 1984.
-
Ikhwan Setiawan, Transformasi Masa Lalu dalam Nyanyain Masa Kini: Hibridasi dan
Negosiasi Lokalitas dalam Musik Populer Using, dalam Kultur, September 2007
-
Novi Anoegrajekti, Kontestasi dan Representasi Identitas Using, dalam Humaniora, No.1
Februari 2011
-
Etnografi Sastra Using: Ruang Negosiasi dan
Pertarungan Identitas, Makalah 2010

-
Sri Margana, Khoirul Anam (penerjemah), Ujung Timur Jawa, 1763 – 1813: Perebutan
Hegemoni Blambangan, Pustaka Ifada, Yogyakarta 2012
[2] Terjemahan syair Podo
Nonton dikutip dari semacam buku buklet atau buku pengantar untuk
penyelenggaraan Seblang yang berjudul
“Upacara Adat Seblang di Kelurahan
Bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi”, fotocopy-an . Dari
keterangan tarikh yang terdapat di Kata Pengantar, buklet ini dibuat pada 10
Maret 2001.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar