Laman

Kamis, 05 Februari 2015

Identitas Etno-kultural dalam Sastra Using: Pembacaan Syair Lagu-Lagu Banyuwangi Sebelum dan Sesudah ‘65



Jarang bagi orang-orang di pinggiran kekuasaan negara – para peladang, orang bukit, para perambah hutan, atau pun para petani di “pedalaman” pedesaan – yang tidak menperoleh istilah yang mempunyai konotasi-konotasi stimagtisasi.
– James C. Scott (2009)



Sastra Using, dalam hal ini syair lagu-lagu Banyuwangi, menyimpan dinamika gagasan-gagasan sosio-kultural-politik dalam masyarakat Banyuwangi. Jika kita bentangkan seluruh periode penciptaan lagu-lagu Banyuwangi kita akan menemukan suatu masa transisi antara angkatan pra 65 dan pasca 65. Suatu periode pendek yang mungkin dapat dianggap sebagai retakan atau jembatan atau sekaligus keduanya dari dua masa tersebut. Tulisan ini dimaksudkan menyelami masa transisi yang setidaknya sampai saat ini agaknya masih tertutup rapat. Berupaya membongkar kebungkamannya dengan melacak ke belakang dan ke depan, serta meninjau kejadian-kejadian dan gagasan-gagasan lain di luarnya yang mungkin memiliki hubungan dan mungkin dapat memberikan penjelasan-penjelasan yang memadai dan mencerahkan.    
 

Penemuan, pertumbuhan, dan perkembangan sastra Using/Osing tidak bisa dilepaskan dari usaha-usaha menegakan tuturan Using sebagai bahasa yang setara dengan bahasa-bahasa daerah lain, semisal bahasa Jawa. Usaha menegakkan tuturan Using sebagai bahasa setidaknya dimulai pada tahun 1970-an, dimulai dengan penyusunan buku Selayang-pandang Blambangan (1976).  Dalam buku yang disusun atas perintah Bupati Banyuwangi saat itu, Kolonel Joko Supaat Slamet, telah dimuat suatu pernyataan tegas, “Sesungguhnya dialek Jawa-Osing bukanlah dialek tetapi sudah dapat disebut sebagai bahasa, yaitu BAHASA OSING”. Namun, usaha ini baru mendapatkan landasan “ilmiah” melalui desertasi Suparman Herusantosa (1987) yang menyatakan bahwa baik bahasa Jawa maupun bahasa Using mempunyai akar genealogis yang sama yaitu Bahasa Jawa kuno tapi keduanya menempuh perkembangan dan pertumbuhan yang berbeda, oleh karenanya bahasa Jawa dan bahasa Using mempunyai kedudukan yang sejajar. Desertasi Suparman tersebut lantas menjadi semacam batu tumpu yang meyakinkan bagi Hasan Ali, seorang budayawan Banyuwangi yang paling gigih dan boleh dikatakan sebagai bidan kelahiran bahasa Using, untuk semakin bertekad memperjuangkan tuturan Using sebagai bahasa. Peristiwa paling penting dalam usaha menegakkan tuturan Using sebagai bahasa adalah pelaksanaan Sarasehan Bahasa Using pertama pada tahun 1990 yang merupakan bagian dari penyelenggaraan Pekan Bahasa Using. Pada sarasehan tersebut Hasan Ali mengajukan saran di bagian akhir makalah yang pada intinya agar dilakukan kodifikasi dan “kampanye” bahasa. Melalui usaha-usaha menegakkan tuturan Using sebagai bahasa, disadari atau tidak, bersama itu pula ikut terjadi “etnisasi” Using yang meliputi penggalian sejarah dan etno-kultural masa lalu guna dijadikan landasan genologis sekaligus teladan yang membanggakan (penciptaan identitas etno-kultural).

Asal-usul sastra Using yang berfungsi sebagai salah satu sendi tegaknya gagasan dan praktik dialek Using sebagai bahasa telah dicari oleh para pendukungnya hingga ke Blambangan abad 17 dan menemukan Sritanjung, Sudamala, dan Sang Satyawan sebagai produk sastra Using kuno. Klaim terhadap ketiga sastra Jawa pertengahan jenis kidung tersebut, saya duga, didasarkan pada pernyataan P.J. Zoetmulder dalam Kalangwan (1974), “ Tempat asal-usul prototipe jenis ini (kidung Sritanjung dan Sudamala) hendaklah kita cari di Banyuwangi . . .” dan Ensiklopedi Indonesia (1987) yang menyebut sastra aliran Banyuwangi dengan contohnya Sritanjung dan Sang Satyawan. Begitu pentingnya keberadaan dan mutu asal-usul sastra Using membuat Hasan Ali menepis pendapat sejumlah kalangan yang berpendapat bahwa kesusastraan Blambangan secara jumlah dan mutu kurang. Dalam makalah Bahasa dan Sastra Using di Banyuwangi untuk Sarasehan Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Timur di Tulungagung tahun 1993, dengan berlandas pada pernyataan B. R. Anderson mengenai abad kegelapan Jawa tahun 1500 – 1750 karena peperangan, pembuangan, perampokan, pembantaian, dan kelaparan yang menyebabkan serba terbatasnya pengetahuan akan kebudayaan Jawa Kuno, Hasan Ali  menduga sebagian besar karya sastra aliran Banyuwangi hancur karena peperangan berkepanjangan dari tahun 1316 – 1772 di Blambangan. Di samping itu upaya guna mengangkat mutu asal-usul sastra Using Hasan Ali  dalam makalah yang sama juga memberikan apresiasi yang tinggi pada syair gending-gending kuno Seblang dengan mengatakan, “Ketika para pujangga Angkatan Lama dan Pujangga Baru masih berleha-leha dengan pepatah-petitih, pantun, gurindam, talibun, sonata dll., yang kemudian ‘diterjang’ oleh Chairil Anwar dan teman-temannya se-Angkatan ’45, justru dalam kesusastraan Using sudah ada Padha Nonton . . . yang dalam bentuk dan isi sama dengan yang dimaui oleh Chairil Anwar”.
        
   

Bagaimanapun istilah Using/Osing sebagai sebutan etnis untuk masyarakat “asli” yang menghuni ujung timur Jawa dan dianggap pewaris dari kerajaan Blambangan tidak populer atau tidak digunakan untuk menyebut diri orang Banyuwangi sendiri (persepsi diri) sebelum abad dua puluh. Pada paruh awal abad dua puluh beberapa sarjana Belanda memang telah menyebut Osinger/Jawa Osinger untuk masyarakat “asli” Banyuwangi. Tapi tidak ada dokumen atau laporan yang menyatakan orang “asli” Banyuwangi sendiri menyebut dirinya orang Osing/Using. Bahkan, John Scholte yang meneliti Gandrung pada paruh kedua 1920-an menyatakan para pendatanglah yang menyebut orang Banyuwangi sebagai orang Using. Sementara pada tahun 1930 seorang peneliti Belanda yang menyebut dirinya “insider” melaporkan bahwa istilah Using berasal dari Bali – “sing” – untuk menyebut orang Banyuwangi. Menurut “insider” istilah Using tersebut bermakna “bukan manusia”. Ketika bahasa Using, sebagai gagasan, mulai dibenihkan pada tahun 70-an, di majalah berbahasa Jawa, Mekar Sari (1974), Paman Goplang memperingatkan agar tidak menyebut orang Banyuwangi sebagai Wong Using bila hendak berlaku sopan.

Dalam syair gending-gending kuno Seblang, yang dianggap sebagai sastra lisan Using, juga tidak ditemukan istilah Using untuk menyebut masyarakat/orang Banyuwangi/Blambangan. Syair gending-gending Seblang memang tidak memuat persepsi diri atau menyebut kelompok masyarakat tertentu sebagai identitas etno-kultural. Orang-orang yang disebut dalam gending-gending Seblang sering dikenali dalam kaitannya dengan profesi, tahapan perkembangan manusia, dan sapaan: tumenggung, demang, wong dodol kembang, lare (cilik), putra, mbok, kakang. Tampaknya identitas etno-kultural bukan hal penting atau menggelisahkan pada masa lalu. Sebagai contoh, pada perang Bayu (1771 - 1773), perang paling menghancurkan di Blambangan, dua kelompok yang saling berhadapan dalam peperangan tidak terbagi dalam dua kelompok etnis yang berbeda. Para pejuang Bayu tidak hanya terdiri dari orang-orang Blambangan saja tapi juga terdapat orang Bugis, Jawa, China, dan Bali. Begitupun di pihak lawan, terdapat serdadu Eropa, Jawa, Madura, bahkan Blambangan.

“Kesadaran” akan identitas sepertinya mulai tampak pada gending-gending (lagu-lagu) yang digubah  pada masa modern. Namun identitas yang dimaksud bukanlah Using, melainkan Blambangan atau Banyuwangi. Pada lagu-lagu karangan Endro Wilis dan Muhamad Arief, keduanya dapat dikatakan pengarang lagu-lagu Banyuwangian modern angkatan pertama, disamping Mahfud tentunya, mulai terbentuk semacam identitas yang ditunjukan melalui perasaan menjadi orang Blambangan atau Banyuwangi yang diungkapkan dengan menyebut-nyebut Blambangan yang dikaitkan dengan diri sendiri dan orang lain yang sedaerah. Namun demikian identitas yang tampak menonjol dalam syair-syair kedua pengarang lagu tersebut lebih ditujukan untuk membangun solidaritas sosial tanpa terpenjara ciri-ciri kedaerahan yang kental. Solidaritas dalam syair-syair tersebut tertuju pada kondisi-kondisi ketertindasan dan ketimpangan secara sosio-ekonomi. Atau mungkin lebih tepatnya dapat dikatakan berawal dari solidaritas kedaerahan dan berakhir pada solidaritas terhadap ketertindasan dan ketimpangan yang diderita oleh umat manusia seumumnya. Atau lebih tepat lagi tidak ada kebebasan dari ketimpangan dan ketertindasan yang bisa dinikmati secara kadaerahan tanpa kebebasan seluruh umat manusia. Pendeknya kebebasan seluruh umat manusia. Contoh paling benderang dari ide tersebut adalah Rantag, lagu karangan M. Arief yang mengajak seluruh umat manusia untuk bergandengan tangan menyongsong zaman baru. Berikut syair lagu Rantag tersebut:
Wis wayahe wong podo tangi (Sudah saatnya orang-orang semua bangun)
Ring wetan katon padang, ilange bengi (Di timur tampak terang, hilangnya malam)
Wis rantag srengengene ganti madangi (Sudah terbit matahari menerangi)
Iku tandane zaman wis ganti (Itu pertanda zaman sudah berganti)
Podo guyup pemuda lan pemudi (Semua bahu-membahu pemuda dan pemudi)
Ngajak wong sak donya dadi siji (Mengajak manusia sedunia menjadi satu)
. . .        
Sementara dalam syair lagu Emas-emas yang menyimpan kondisi-kondisi kontradiktif hampir di sekujur tubuh syair, M. Arief menceritakan bagaimana seorang petani yang banting tulang mengolah lahan yang subur namun tak mampu lepas dari kemelaratan. Walaupun begitu, dalam kondisi serba sulit, petani tersebut masih ikut berjuang. Berjuang dalam syair tersebut bukan hanya berjuang untuk diri sendiri tapi juga untuk orang banyak atau untuk suatu gagasan bersama. Kata “perandane (walaupun begitu)” pada baris terakhir kutipan syair di bawah menjadi kata kunci yang memisahkan sekaligus menghubungkan antara kondisi-kondisi individual – kesulitan hidup karena dililit hutang – dan kondisi komunal yang dirujuk dengan tindakan berjuang. Maksud tersiratnya bisa jadi adalah kesulitan individual hanya dapat diselesaikan dengan tuntas jika kesulitan komunal juga diselesaikan.    
emak-emak saben dino nanduri pari (Ibu-ibu tiap hari menanam padi)
 mari nggampung wong parine kari sejalang (Setelah panen padinya sisa sejalang)
 emak bapak nyaur utang sing mari-mari (Emak bapak bayar hutang tak selesai-selesai)
 perandane bapak mageh sanggup berjuang (Walaupun begitu bapak masih sanggup berjuang)    
. . .
Dalam lagu Emas-emas ini, yang bagian awal syairnya melukiskan bagaimana musik angklung Banyuwangi dinikmati dan mengekspresikan suasana kerja, tampaknya produk kultural (seni musik angklung) menjadi bagian organik dari kerja produktif manusia. Barangkali cara menikmati musik angklung dalam lagu ini dapat dibandingkan dengan bagaimana budak-budak kulit hitam pemetik kapas di Amerika pada masa perbudakan menikmati blues untuk mengekpresikan suasana kerja di ladang-ladang kapas milik para tuan tanah kulit putih. Suatu kebudayaan yang belum lagi dilepaskan dari tubuh. Sikap terhadap kebudayaan semacam ini kita juga bisa lacak dalam lagu-lagu Endro Wilis. Produk-produk kultural berupa ragam kuliner Banyuwangi menjadi tema dalam beberapa lagu karangan Endro Wilis, seperti Pelasan Sempenit dan Pindhang Koyong. Dalam syair dua lagu tersebut ragam kuliner bukan hanya menjadi kehadiran simbolik dari produk kultural daerah yang membanggakan atau sekedar menjadi semacam salah satu “land mark” kultural daerah. Pelasan Sempenit disuguhkan sebagai suatu hidangan “hidup” yang tidak terpisahkan dengan aktivitas produksi, relasi antar individu, dan simbol dari identitas sosio-politik-kultural (kawula alit). Syair Pelasan Sempenit ini menceritakan petani yang dikirim sarapan oleh istrinya di sawah. Lihatlah! Alangkah girangnya sang istri berangkat mengirim sarapan kepada suaminya, “Bibiq ngirim paman lambeyane membat mayun!”. Walaupun matahari sudah mulai terasa panas namun hati masih musim hujan, “Serngengene wis mangkat kerasa panas, tapi ati seger, jeh, musim rendheng!”. Begitupun dengan paman tani saat tahu sang istri mengirim sarapan. Ia begitu girang “eseme meledhung”. Apalagi tahu kalau sang istri membawa lauk pelasan sempenit, “Paman terus ngibing, meluk bibiq kang meh tiba”. Alangkah! Kegembiraan yang sangat sederhana. Kegembiraan yang mampu “dibeli’ oleh siapapun. Begitupun dengan syair Pindhang Koyong yang menceritakan ketaksabaran seorang anak untuk segera bisa menikmati masakan pindhang koyong emaknya. Namun, kegembiraan sederhana dalam syair lagu-lagu Endro Wilis tersebut segera hilang manakala berhadapan dengan kondisi-kondisi yang diakibatkan oleh praktik penghisapan. Sirnanya kegembiraan digantikan oleh kemarahan yang diekspresikan secara lugas seperti dalam syair lagu Segara. Dalam syair lagu Segara  kegigihan menghadapi tantangan alam yang diekspresikan dengan “sun adepi beboyo, angin lesus prahara” dan kegembiraan kerja menunggang gelombang yang diekspresikan dengan ibarat “anak nong gendongan” akhirnya lenyap ketika hasil kerja banting tulang harus tumpah di tangan juragan yang dikiaskan sebagai “setan laut”. Dalam syair lagu-lagu karangan Endro Wilis dan M. Arif  produk kultural – baik itu ragam musikal ataupun ragam kuliner – dan aktivitas produksi tak terpisahkan dari dinamika kehidupan sehari-hari dan mempunyai dimensi yang lebih luas dalam kaitannya dengan relasi produksi, relasi dengan orang lain, dan relasi dengan alam. Budaya yang demikian itu, budaya yang tak terpisahkan dari tubuh, adalah budaya yang juga tak terpisahkan dari politik. Di sini politik hendaknya tidak dimaknai sebagai tindakan kotor yang lazim kita dengar  di mana-mana saat ini. Namun politik sebagai seni memperjuangkan kebajikan bersama. Oleh karenanya identitas dalam syair lagu-lagu M. Arief dan Endro Wilis bukanlah identitas etno-kulutral. Identitas dalam lagu-lagu dua pengarang tersebut adalah identitas sosio-politik. Tak mengherankan kiranya syair lagu-lagu dua pengarang tersebut juga banyak menceritakan “orang kecil” dengan maksud membongkar hubungan timpang (kontradiktif) dalam relasi produksi.

Namun kecenderungan syair lagu-lagu Banyuwangian dengan ciri-ciri seperti di atas pada akhirnya terhenti. Kemelut politik 65 yang berskala nasional menggulung hampir seluruh lapangan kesenian di Banyuwangi. Aktivitas bermusik boleh dibilang pingsan sebelum Bupati Kolonel Joko Supaat Selamet mengembalikan kembali gairah bermusik dan berkesenian lainnya di Banyuwangi. Tapi musik Banyuwangi tidak sama lagi. Kata Bernard Arps (2009),  “In the early 70s, under the regent of the New Order, the genre of Banyuwangi music was revived – in a raddically different political context and without ‘Genjer-Genjer’ . . . (Pada awal 70-an, di bawah bupati pertama masa Orde Baru, genre musik Banyuwangi dibangkitkan lagi – dengan suatu konteks politik yang berbeda secara radikal dan tanpa ‘Genjer-genjer’. . .)”.

Tahun 70-an barangkali merupakan tahun-tahun penting dalam kebijakan poltik kultural Orde Baru. Pada periode itu, disamping kampanye anti komunis yang masif yang berlangsung selama puluhan tahun, pemerintah juga direpotkan dengan apa yang disebut westernisasi budaya. Pengaruh budaya barat (hippies) yang ditandai dengan gaya hidup anak muda yang suka teler dan rambut gondrong – mesti diingat juga bahwa gerakan kaum hippies bukan hanya gaya hidup urakan, tapi juga gerakan politik yang salah satunya adalah gerakan anti perang – dianggap membahayakan karena meracuni anak muda dengan obat-obatan terlarang, sex bebas, dan – paling penting – mendorong anak muda untuk bersikap tidak hormat bahkan membangkang pada orang tua. Hal yang terakhir itu menjadi paling penting sebab secara tidak langsung sikap tersebut merusak hubungan yang dilandasi oleh sikap hormat dan patuh antara orang tua (bapak) dan anak yang merupakan idealisasi dari hubungan pemerintah (presiden sebagai bapak) dan rakyatnya (sebagai anak). Guna membendung pengaruh buruk dari westernisasi yang dianggap bertentangan dengan kepribadian bangsa tersebut pemerintah melakukan beberapa kebijakan politik antara lain revitalisasi nilai-nilai tradisi yang secara monumental disimbolkan dengan pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan razia rambut gondrong yang menggelikan. Pada tahun itu juga Presiden Soeharto mengunjungi Banyuwangi di Tapanrejo (Muncar) dan disuguhi dengan musik angklung. Konon Soeharto merasa terkesan dengan kesenian angklung Banyuwangi dan bertanya kepada Bupati apakah kesenian ini sudah ada dari dulu dan dimainkan PKI? Bupati mengiyakan jika musik angklung sudah ada sebelum PKI. Lantas Soeharto berpesan agar musik angklung “dimurnikan” kembali dan dibersihkan dari pengaruh komunis.[1] Maka jadilah Bupati Supaat kembali menghidupkan musik angklung Banyuwangi yang sempat pingsan dihantam kemelut politik. Penyusunan buku Selayang-pandang Blambangan yang diniatkan untuk menghimpun data historis dan etnografis sangat mungkin tidak lepas dari pengaruh kebijakan politik kultural Orde Baru semacam ini.

Peristiwa politik 1965 membekaskan sejarah kesenian yang pahit di Banyuwangi. Bukan hanya stigmatisasi Genjer-genjer dan lagu-lagu semasanya. Peristiwa kelam tersebut juga merenggut seniman musik M. Arief yang sampai sekarang tidak diketahui nasibnya. Sementara Endro Wilis harus merasakan dinginnya lantai penjara Lowokwaru, Malang. Peristiwa tragis yang merenggut ribuan bahkan ada yang menyebut jutaan nyawa dan sekian penghilangan manusia tersebut direkam dalam syair lagu karangan Endro Wilis, Mbok Irat. Lagu yang dikarang pada saat Endro Wilis bertugas dalam dinas ketentaraan (masa konfrontasi Indonesia – Malaysia) di Sanggau, Kalimantan Barat tersebut mengekspresikan kecemasan terhadap anggota keluarga yang tidak ada berkabar. Mari kita simak beberapa baris syair lagu tersebut:
Mbok Irat riko nong kutha, apuwa sing mulih-mulih
Wis suwe nono kabare, emak bapaq yara anten-antenan
. . .
. . . mugo-mugo aja katut aratan
Ring kutha jare geni ngamuk, wong mati kobong saq dalan-dalan
. . .
Terjemahannya:
Kakak Irat kamu dikota kenapa tidak kunjung pulang
Lama sudah tidak ada berkabar, ibu bapak menunggu-nunggu
. . .
. . . semoga tidak kena pageblug
Di kota katanya api mengamuk, orang mati terbakar berkaparan di jalanan

  Hal menarik lain dari lagu ini adalah di bagian bawah lembar kertas dimana lagu ini ditulis dibubuhkan catatan peringatan: “Syair aslinya sudah dihancurkan oleh kawan yang . . . (diganti total tanpa idzin!) / tidak bisa menghargai hak pribadi orang lain. / Maka sekarang saya buat sya’ir baru ini dan saya nyatakan bahwa sya’ir yang di luar ini adalah pelanggaran!!. Jadi pada dasarnya syair yang dikutip di sini adalah syair baru yang ditulis ulang di Banyuwangi, 26 – 4 – 1996, sedangkan syair lama yang ditulis di Sanggau, Kalimantan Barat, 3 – 10 – 1965 sudah hancur (tulisan miring dikutip dari tarikh penulisan syair di pojok kanan atas lembar lagu tersebut). Ada dua pertanyaan: Siapa teman yang menghancurkan syair Mbok Irat? dan Kenapa syairnya dihancurkan? Saya tidak memperoleh jawaban untuk dua pertanyaan tersebut. Tapi apa yang menimpa Endro Wilis seperti hal di atas bukan sekali ini. Beberapa lagu Endro Wilis dikasetkan tanpa menyertakan nama pengarangnya atau diklaim sebagai karangan orang lain dan ada juga syair lagu lainnya yang diubah tanpa sepengetahuannya. Sedangkan lagu yang semula berjudul Selendang Abang yang menceritakan momen perpisahan antara sepasang kekasih karena sang pria harus pergi berperang diganti menjadi Selendang Sutra, diduga karena abang (merah) identik dengan komunis.

“Penghancuran” syair lagu Mbok Irat di atas seperti menjadi simbol dengan apa yang terjadi pada nasib lagu-lagu Banyuwangi yang dikarang sebelum 65 dan kecendrungan arah politik kultural apa yang akan ditempuh oleh lagu-lagu Banyuwangi pasca 65. Hampir seluruh lagu-lagu yang ditulis pra 65 menghilang di Banyuwangi. Walaupun mungkin tanpa pelarangan formal namun kasus Genjer-genjer rupanya telah menjadi stigma yang traumatik bagi masyarakat Banyuwangi. Akibatnya masyarakat Banyuwangi tidak lagi berani menyanyikan lagu-lagu yang dikarang pra 65 karena stigma komunis atas lagu-lagu dan para pengarangnya. Sementara itu, penulisan syair lagu-lagu pasca 65 bagaimanapun tidak dapat dilepaskan dari kebijakan politik kultural yang digariskan Jakarta yang di Banyuwangi mewujud dalam penyusunan buku Selayang-pandang Blambangan yang diikuti oleh tumbuhnya cita-cita kebahasaan bersama etnisasi Osing yang membayang-bayanginya.

Syair lagu-lagu yang ditulis pasca 65 oleh pengarang-pengarang lagu angkatan kedua adalah syair-syair yang menyokong gagasan etnisasi. Sebagaimana dalam proses tahapan-tahapan penegakan tuturan Using sebagai bahasa yang dideskripsikan oleh Arps. Tahun 70-an merupakan tahap transformasi yang dalam proses penegakan bahasa adalah tahapan pencarian dan penemuan landasan ilmiah serta konsep-konsep perumusan kodifikasi beserta strategi-strategi kampanye dan aktivitas-aktivitas strategis, sementara dalam lagu-lagu terjadi “depolitisasi” dalam syair. Dalam syair lagu-lagu Banyuwangi yang ditulis oleh para pengarang pasca 65 kita tidak lagi menemukan keberpihakan yang terbaca jelas-jelas dalam syair-syair pra 65. Segala produk kultural di Banyuwangi yang menjadi tema lagu-lagu pasca 65 disuguhkan tanpa terkait dengan dinamika kehidupan sehari-hari, namun dihidangkan sebagai kekhasan daerah yang membanggakan seperti dalam lagu Rujak Singgul, “Sing koyo nong Banyuwangi, rujak akeh maceme (Tidak seperti di Banyuwangi, rujak banyak ragamnya)”. Dalam lagu tersebut Banyuwangi dianggap sebagai peta kultural tersendiri (khas) yang berbeda dari daerah-daerah lain. Di sini syarat umum dari suatu identitas etno-kultural sebagai yang khas dan memandang kelompok lain sebagai yang berbeda mulai tampak. Dalam hal ini, yang dimaksud “depolitisasi” syair lagu-lagu tersebut di atas bukan berarti tidak bersifat politik sama sekali, namun politik diarahkan sebagai aktivitas-aktivitas perjuangan kultural. Kulturalisasi politik semacam itu menggeser prioritas perjuangan dari menghapuskan ketimpangan sosio-ekonomi yang disebabkan oleh praktik penghisapan dan ketidakadilan dalam penguasaan sumber daya alam atau sumber-sumber ekonomi menjadi perjuangan untuk mendapatkan pengakuan identitas (etnik).

Sebagaimana telah dibahas di awal tulisan ini, penciptaan identitas etno-kultural Using dilaksanakan dengan penggalian sejarah kultural masa lalu yang berfungsi sebagai genesis sekaligus teladan yang membanggakan. Oleh karenanya, kemudian, sejarah kerajaan Blambangan “terpilih” diangkat ke permukaan dan dikaitkan dengan karakteristik identitas etno-ideologis Using yang diidealisasikan. Maka, pertempuran-pertempuran yang heroik, seperti perang Bayu yang lambat-laun menjadi ikonik, diklaim sebagai tindakan-tindakan leluhur Using yang membanggakan. Watak heroik, yang pada mulanya digali dari peperangan-peperangan tersebut, selanjutnya menjadi semacam salah satu nilai baku karakteristik Using. Syair beberapa gending kuno Seblang, sebagai warisan sastra lisan Using, tak luput dari tafsir heroik semacam itu. Mari kita simak salah satu syair gending Seblang yang mendapatkan tafsir heroik:
Podo Nonton
Podo nonton pudak sempal ring lelurung ya pandite
Yo pudak sempal lambeyane para putro.
Para putra kejala ring kedung lewung ya jalane ya
Jala sutra ya tampange tampang kencana.
Kembang menur melik-melik ring bebentur.
Sun siram siram alum sun petik mencirat ati.
Lare angon gumuk iku paculana.
Sun tanduri kacang lanjaran saunting ulih perawan

Tafsir-terjemahannya sebagai berikut:
Sama Menyaksikan[2]

Sama-sama menyaksikan
Bunga pudak (lambang rakyat kebanyakan)
Rebah di jalan-jalan
Yang keadaannya (seperti) bunga pudak.
(Yang lunglai) ayunan tangannya (karena kerja paksa/rodi)
Para putra (Blambangan)
Telah terjebak di kedung kebingungan
Oleh jala sutra (kompeni)
Yang rantainya, rantai kencana (yang berupa bujukan)
Kembang menur (wanita-wanita Blambangan)
Tampak mungil di sudut halaman.
Disiram (semangat) tetap layu
Dipetik menyentuh hati (perasaan).
Anak gembala (pejuang-pejuang Blambangan)
Cangkuli bukit-bukit itu (dengan semangat perlawanan)
Tanami kacang lanjaran (sampai ke mana-mana)
Seikat dapat anak perawan (kemenangan).

Bagaimana mungkin upacara ritual Seblang yang, jika benar seperti yang dikatakan oleh Achmad Aksara, termasuk upacara ritual Hindu yakni Butha Yadnya (upacara kurban untuk kekuatan alam) ditafsir menjadi ekspresi perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda?

Watak heroik sebagai salah satu karakteristik identitas etno-kultural Using mendapatkan gemanya yang panjang dan berulang-ulang dalam syair lagu-lagu Banyuwangi pasca 65. Kita bisa menyebut banyak lagu pasca 65 yang syairnya berwatak heroik. Namun lagu berwatak heroik paling ikonik dengan irama dan syair yang menggugah dan memanggil-manggil adalah lagu yang dikarang oleh BS. Noerdian dengan syair yang ditulis oleh Andang Cy., Umbul-Umbul Blambangan. Lagu ini adalah contoh paling tepat bagaimana gagasan identitas etno-kultural Using mengekspresikan nilai patriotik-heroik dan menggambarkan asal-usulnya. Dalam syair Umbul-Umbul Blambangan tokoh-tokoh historis dan fiktif berkelindan membentuk nilai heroik dan genesis identitas etno-kultural Using. Berikut petikannya:
Ganda arume getih Sritanjung (Aroma harum darah Sri Tanjung)
Ya magih semembrung (Masih semerbak)
Pamuke satriyo Minak Jinggo (Keberanian satria Minak Jingga)
Ya Magih murub ning dhadha (Masih nyala di dada)
Magih kandel kesaktenane (Masih tebal kesaktiannya)
Tawang Alun lan Agung Wilis (Tawan Alun dan Agung Wilis)
Magih murub tekade Sayu Wiwit (Masih nyala tekad Sayu Wiwit)
Lan Pahlawan petang puluh lima (Dan Pahlawan empat puluh lima)

Barangkali tokoh, dari sekian tokoh yang disebut di atas dan dianggap menjadi leluhur Using, yang paling menarik adalah Minak Jinggo. Dalam kisah langendriyan bagi orang-orang luar Banyuwangi Minak Jinggo adalah tokoh antagonis dan buruk rupa. Namun untuk identitas etno-kultural Using Minak Jinggo adalah tokoh pahlawan yang gagah berani. Sebagaimana dalam beberapa syair lagu pra 65, dalam Umbul-umbul Blambangan ini juga digambarkan keadaan alam Banyuwangi/Blambangan yang kaya dan subur. Namun, jika dalam syair pra 65 keadaan alam yang subur tidak berbanding lurus dengan kondisi rakyatnya, malah sebaliknya, kontradiktif, tidak demikian dengan syair lagu Umbul-umbul Blambangan. Seperti dalam banyak syair lagu-lagu pasca 65 lainnya, syair lagu tersebut melukiskan rakyat yang giat bekerja tanpa ada masalah dengan kondisi sosio-ekonominya. Satu-satunya potensi ancaman yang hadir dan bertekad akan dihadapi dalam lagu ini barangkali adalah ancaman terhadap eksistensi kultural, “Hang sapa-sapa bain (Barang Siapapun) / Arep nyacak ngerusak (Berniat coba merusak) / Sunbelani, sundhepani sunlabuhi (Kubela, kuhadapi kujuangi)”. Watak heroik yang kental dan lebih jelas terhubung dengan karakteristik identitas ethno-kultural Using adalah lagu karangan BS. Noerdian dengan syair ditulis Andang, Cy.,  Isun Lare Using yang seolah merupakan suatu proklamasi kualitas-kualitas keusingan. Sebagaimana Umbul-umbul Blambangan syair lagu inipun merepresentasikan watak identitas yang diturunkan dari leluhur sejak zaman Blambangan. Berikut adalah dua bait terakhir Isun Lare Using:
Jemlegur meriyem kompeni (Berdentam meriam kompeni)
Alas Bayu karang abang (Hutan Bayu terbakar)
Lo Pangpang Mberanang (Lo Pangpang memerah)
Selebrang dudu kembang (Kemerlap bukan kembang)
Getih kutah kembang-kembang (Darah tumpah menyimbah ruah)
Mbah buyut mati perang (Leluhur mati perang)
Gantine sepirang-pirang (Penggantinya melimpah ruah)

Isun lare using (Aku teruna using)
Tau gilig tau gepeng (Pernah remah pernah gepeng)
Dijajah ambi Landa (Dijajah oleh Belanda)
Disiksa serdhadhu Jepang (Disiksa serdadu Jepang)
Taping magih bisa ngelawan (Tapi masih bisa melawan)
Lan menang ngerebut kemerdekaan (Dan menang merebut kemerdekaan)

Identitas apapun tidak jatuh dari langit tapi hasil dari konstruksi sosial. Menurut James C. Scott, “ Quite often such identities, particularly minority identities, are at first imagined by powerful states . . . (Kerapkali identitas-identitas, terutama identitas minoritas, pada mulanya dibayangkan oleh negara yang berkuasa . . .)”. Dalam hal ini, Using/Blambangan – jika ia adalah sebuah identitas yang terbentuk pada jaman lampau – sangat mungkin adalah hasil dari pembayangan dari dua kerajaan yang lebih kuat yang mengapitnya; kerajaan Majapahit/Mataram dan kerajaan-kerajaan di Bali. Sebagai wilayah pinggiran yang diperebutkan oleh dua kerjaan besar di sebelah Barat dan Timurnya, wilayah Blambangan secara politik labil. Sementara, karena wilayahnya yang jauh dari pusat kerajaan induk (Majapahit/Mataram) dan adanya halangan alam yang menyulitkan untuk dilakukan kontrol politik terus menerus secara langsung membuat wilayah Blambangan berpotensi manjadi semacam daerah “suaka” bagi para pelarian politik, buron, para penghindar pajak dan wajib militer. Jarangnya kontrol politik secara langsung tersebut membuka peluang bagi orang kuat lokal untuk menahbiskan diri menjadi pemimpin atau raja dan juga membuka kemungkinan terjadinya pembangkangan-pembangkangan menentang kerajaan induk. Perilaku memberontak inilah yang mendorong kerajaan induk melakukan penghukuman-penghukuman, baik secara militer maupun secara kultural. Kita tahu beberapa kali Mataram melakukan serangan militer yang menghancurkan dan mengangkut ribuan penduduk Blambangan ke Mataram. Bali juga beberapa kali melakukan tindakan-tindakan penghukuman dan yang paling brutal adalah pemanggilan dan dibunuhnya Pangeran Pati di pantai Seseh. Sementara secara kultural Blambangan yang bukan Islam dan juga bukan Hindu yang mempunyai struktur kasta dalam masyarakatnya seperti Bali adalah kelompok masyarakat yang dianggap tak beradab (barbar). Di atas kita sudah membahas, melalui “insider”,  mengenai istilah Using yang bermakna “bukan manusia”. Sementara Mataram menstigma masyarakat Blambangan secara simbolik melalui tokoh Minak Jinggo yang berwatak berangasan, doyan mabuk, berwajah semirip anjing, berkaki timpang, dan sengau. Bahkan sisa-sisa stigma ketakberadaban tersebut sampai sekarang kerap kita dengar, semisal kota santet (ilmu hitam yang berfungsi mencelakai orang lain dan praktik perdukunannya sering dianggap bertentangan dengan agama). Hal yang perlu diingat adalah bahwa ketakberadaban tersebut berasal dari prespektif kerajaan-kerajaan yang lebih kuat.

Hal menarik dari penemuan Using di masa modern adalah Using modern merupakan antitesis Using kuno. Penggonstruksian Using modern seolah merupakan upaya menyangkali Using/Blambangan kuno dengan memenuhi kekurangan-kekurangan kulturalnya dan sekaligus berupaya berakar kepadanya. Kekurangan-kekurangan kultural tersebut diukur dengan standar identitas yang justru dimiliki oleh budaya-budaya kerajaan yang menstigmatisasinya. Jadilah kemudian Using modern menambal kekurangan-kekurangan kulturalnya dengan usaha pembakuan adat-istiadat daerah, pembakuan pakaian daerah, mendaftar jenis-jenis kesenian dan ragam kuliner, mendaftar hasil sastra, dan terutama perjuangan untuk mendapatkan pengakuan status bahasa, serta yang terakhir adalah keberaksaraan. Oleh karena identitas etno-kultural membutuhkan genesis (asal-usul) yang sesuai maka beberapa sejarah kultural Using/Blambangan kuno harus disesuaikan dengan identitas etno-kultural Using yang diidealisasi. Tafsir heroik beberapa syair Seblang dan pemosisian kesenian Gandrung sebagai bagian dari siasat gerilya adalah hasil dari penyesuaian-penyesuaian ini. Dalam hal penyesuian-penyesuaian ini syair lagu-lagu pasca 65 memainkan peran penting dalam menyebarkan idealisasi identitas etno-kultural Using ke khalayak.

Pada akhirnya, didorong oleh rasa khawatir akan terjadi salah paham atas tulisan ini, saya akan mengutip pernyataan James C. Scott yang saya sepakati. “Apakah diciptakan atau dipaksakan, identitas-identitas memilih, kurang lebih secara arbiter, satu atau banyak watak, walau samar-samar – agama, bahasa, warna kulit, pola makan, mata pencaharian – sebagai hal yang dikehendaki (desiderata). Kategori-kategori tersebut, yang terlembagakan dalam teritori, pemilikan tanah, istana, hukum adat, tetua-tetua yang ditunjuk, sekolah-sekolah, dan berkas-berkas tertulis, bisa menjadi identitas yang dihidupi sepenuh keyakinan. Apabila identitas tersebut distigmatisasi oleh negara atau masyarakat yang lebih besar, mungkin banyak orang menjadikani identitas tersebut untuk menentang dan memberontak. Di sini penemuan identitas berpadu dengan peneguhan diri yang heroik, di mana identifikasi tersebut menjadi lencana kehormatan”.   

* * * * *




Daftra Pustaka
-          Aria Wiratma Yudhistira, Dilarang Gondrong!, Tangerang: Marjin Kiri, 2010

-          Bernard Arps, Osing Kids and the banners of Blambangan, Ethnolinguistic identity and the regional past as ambient themes in an East Javanese town, dalam Wacana Vol.11 No.1 (April 2009)

-                                           Terwujudnya Bahasa Using di Banyuwangi dan Peranan Media di Dalamnya, dalam Mikihiro Moriyama dan Manneke Budiman Ed., Geliat Bahasa Selaras Zaman, Tokyo University for Foreign Languange, 2010
-          Endro Wilis, Istilah ‘Using’ adalah Racun yang Melumpuhkan Jiwa, Lembar Kebudayaan 10, Maret 2010.

-          Hasan Ali, Bahasa dan Sastra Using di Banyuwangi, makalah untuk Sarasehan Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Timur di Tulungagung, 13-14 Nopember 1993

-          Hasan Basri, Sekilas Tentang Sastra Using Banyuwangi, Makalah untuk Sarasehan Pemanfaatan Potensi Kebahasaan dan Kesastraan dalam Rangka Pembinaan dan Pembangunan Bahasa dan Sastra Daerah, 20 Juni 2010

-          I Made Sudjana, Nagari Tawon Madu, Larasan-Sejarah, 2001

-          Indriyanto, Kebangkitan Tari Rakyat di Daerah Banyumas (The Resurgence of Folk Dances in Banyumas), Harmonia Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni, Vol.2 No.2/Mei – Agustus 2001

-          James C. Scott, The Art of Not Being Governed, An Anarchist History of Upland Southeast Asia, Yale University Press, New Haven & London, 2009


-          P.J. Zoetmulder, Kalangwan, Penerbit Djambatan, Jakarta 1983
-          Setya Yuwana Sudikan, M.A., Sastra Using di Banyuwangi, makalah untuk Seminar Bahasa Using

-          Sri Margana, Melukis Tiga Roh: Stigmatisasi dan Kebangkitan Historiografi Lokal di Banyuwangi, makalah untuk Konferensi Nasional Sejarah IX, Jakarta, 5 – 7 Juli 2011

-          Suripan Sadi Hutomo, Tembang Mahisa Langit? Orang Banyuwangi Masih Ada yang Ingat?, Surabaya Post, 10 Maret 1984.

-          Ikhwan Setiawan, Transformasi Masa Lalu dalam Nyanyain Masa Kini: Hibridasi dan Negosiasi Lokalitas dalam Musik Populer Using, dalam Kultur, September 2007

-          Novi Anoegrajekti, Kontestasi dan Representasi Identitas Using, dalam Humaniora, No.1 Februari 2011

-                                           Etnografi Sastra Using: Ruang Negosiasi dan Pertarungan Identitas, Makalah 2010

-          Sri Margana, Khoirul Anam (penerjemah), Ujung Timur Jawa, 1763 – 1813: Perebutan Hegemoni Blambangan, Pustaka Ifada, Yogyakarta 2012


[1] Kisah ini didapat penulis dari almarhum Achmad Aksara yang merupakan budayawan Banyuwangi.
[2] Terjemahan syair Podo Nonton dikutip dari semacam buku buklet atau buku pengantar untuk penyelenggaraan Seblang yang berjudul “Upacara Adat Seblang di Kelurahan Bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi”, fotocopy-an . Dari keterangan tarikh yang terdapat di Kata Pengantar, buklet ini dibuat pada 10 Maret 2001. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar