Laman

Kamis, 05 Februari 2015

Identitas Etno-kultural dalam Sastra Using: Pembacaan Syair Lagu-Lagu Banyuwangi Sebelum dan Sesudah ‘65



Jarang bagi orang-orang di pinggiran kekuasaan negara – para peladang, orang bukit, para perambah hutan, atau pun para petani di “pedalaman” pedesaan – yang tidak menperoleh istilah yang mempunyai konotasi-konotasi stimagtisasi.
– James C. Scott (2009)



Sastra Using, dalam hal ini syair lagu-lagu Banyuwangi, menyimpan dinamika gagasan-gagasan sosio-kultural-politik dalam masyarakat Banyuwangi. Jika kita bentangkan seluruh periode penciptaan lagu-lagu Banyuwangi kita akan menemukan suatu masa transisi antara angkatan pra 65 dan pasca 65. Suatu periode pendek yang mungkin dapat dianggap sebagai retakan atau jembatan atau sekaligus keduanya dari dua masa tersebut. Tulisan ini dimaksudkan menyelami masa transisi yang setidaknya sampai saat ini agaknya masih tertutup rapat. Berupaya membongkar kebungkamannya dengan melacak ke belakang dan ke depan, serta meninjau kejadian-kejadian dan gagasan-gagasan lain di luarnya yang mungkin memiliki hubungan dan mungkin dapat memberikan penjelasan-penjelasan yang memadai dan mencerahkan.    

Kamis, 06 Maret 2014

Suatu Tinjauan Singkat Sastra Using: Dari Kidung Sritanjung Sampai Puisi Isun Lare Using *




“Nama Using diberikan pada orang Blambangan oleh para pendatang . . . Orang Blambangan sendiri menyebut dirinya orang Jawa Asli. Nama paling tepat untuk mereka adalah orang Blambangan”. (John Scholte: 1927)



Pada umumnya berbagai kalangan meletakkan Sritanjung, Sang Satyawan, dan Sudamala sebagai contoh paling awal dari karya sastra Using. Tiga karya sastra Jawa masa pertengahan berbentuk kidung itu dianggap sebagai karya sastra Using  berdasarkan pernyataan P.J. Zoetmulder  dalam karya besarnya Kalangwan yang berbunyi, “ Tempat asal-usul prototipe jenis ini (kidung Sritanjung dan Sudamala) hendaklah kita cari di Banyuwangi . . .”.[1] Selain itu Ensiklopedi Indonesia (1987) juga menyebut sastra aliran Banyuwangi dengan contohnya Sritanjung dan Sang Satyawan. Apa yang membuat ketiga naskah sastra dari masa Blambangan itu dimasukkan sebagai sastra Using adalah adanya anggapan bahwa kebudayaan Using yang tumbuh di Banyuwangi merupakan kelanjutan dari kebudayaan Blambangan.

Dalam Kalangwan Zoetmulder menyebut kidung Sritanjung dan Sudamala mempunyai perbedaan dengan kidung-kidung lainnya yang terutama pada tidak adanya latar belakang keraton atau sifat kerakyatannya. Penuturan lisan bagaimanapun memainkan peran besar pada penulisan dua naskah yang isi ceritanya sesungguhnya telah dikenal pada masa Majapahit. Ketiadaan latar belakang keraton dalam dua kidung tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh keadaan tempat dan zaman dimana dua kidung itu disalin. Blambangan, meskipun mempunyai rentang masa yang cukup panjang sebagai kerajaan Hindu terakhir di Jawa, merupakan wilayah yang tak sudah mengalami peperangan hebat dari masa Majapahit sampai pendudukan kompeni Belanda. Ketakstabilan politik berkepanjangan diikuti oleh peperangan terus-menerus, baik sebab internal berupa perebutan tahta dan sebab eksternal berupa serbuan kerajaan-kerajaan dari Bali dan Mataram, menyebabkan pusat pemerintahan atau kraton berpindah-pindah. Disamping itu, pengambilan bentuk kidung dalam penulisan Sritanjung dan Sudamala yang menurut Zoetmulder, “Bila dipandang dari sudut sastra, maka kidung-kidung pada umumnya dengan jelas memperlihatkan kekurangan-kekurangan’,[2] seolah mengonfirmasi pendapat I Made Sudjana dalam Nagari Tawon Madu (2001) yang menyatakan Blambangan tidak pernah mengalami masa keemasan, zaman kertayuga yang sesungguhnya, dimana berkembang seni sastra dan kebudayaan pada umumnya. Atau setidaknya sastra pada masa Blambangan tidak tumbuh dan berkembang dengan maksimal di dalam tembok kraton.[3]

Berbeda dengan Zoetmulder yang menilai kidung sebagai karya sastra lebih rendah dibandingkan dengan kakawin jika ditinjau dari unsur interinsik sastra. Dalam kajian pendek mengenai naskah Kidung Sritanjung berhuruf Arab pegon yang tersimpan di museum Banyuwangi, Suripan Sadi Hutomo justru mengaku menemukan keindahan. Bahkan dalam naskah tersebut ia menemukan dua versi puisi tembang yang khas (tidak terdapat dalam macapat) yakni puisi wukir dan mahisa langit. Suripan Sadi Hutomo menggolongkan kidung Sritanjung sebagai sastra Jawa Pasisiran yang bersifat dinamis dan demokratis.[4]

Penilaian Suripan Sadi Hutomo mengenai Kidung Sritanjung yang disebutnya bersifat dinamis dan demokratis sedikit banyak mengingatkan pada penilaian John Scholte (1927) mengenai Gandrung. Ketika membandingkan Gandrung dengan tarian Jawa dalam Gandroeng van Banjoewangi John Scholte menyatakan, “. . .Gandrung maupun penari-penari rakyat, dan oleh karenanya mereka bukan pembawa cap dari etiket kekratonan yang mempunyai ciri untuk selalu menekan dan menghaluskan segala ekspresi vital serta juga untuk melambat-lambatkan gerakan-gerakannya hingga terkuasai secara estetis tetapi kadang-kadang menyebabkan kehilangan penghayatan dari hakekatnya  . . .”.
   
Disamping ketiga naskah Bahasa Jawa Pertengahan itu syair dalam gending-gending kuno Seblang dan Gandrung juga dimasukkan sebagai sastra Using. Berbeda dengan Sritanjung, Sudamala, dan Sang Satyawan yang mempunyai bentuk naskah (tertulis), syair-syair kuno Seblang dan Gandrung merupakan sastra lisan yang dinyanyikan dengan iringan instrument musik tradisonal tertentu dan merupakan bagian dari tradisi ritual dan seni tari. Syair-syair kuno Seblang dan Gandrung  baru mendapatkan bentuk tertulisnya setelah seorang Belanda pada paruh pertama abad XX, Ottolander, dikabarkan mendokumentasikannya secara tertulis.

Beberapa kalangan, terutama pengkaji dan pemerhati di kalangan orang-orang Banyuwangi, sangat membanggakan syair gending-gending kuno Seblang. Mereka menyebut syair tersebut melampaui zaman, mendahului puisi-puisi modern yang bebas. Hasan Ali, pemelihara dan penjaga kebudayaan Using yang ulet dan selalu didengar dan diikuti pernyataannya, dengan mengambil contoh salah satu gending Seblang, Padha Nonton, mengatakan, “Ketika para pujangga Angkatan Lama dan Pujangga Baru masih berleha-leha dengan pepatah-petitih, pantun, gurindam, talibun, sonata dll., yang kemudian ‘diterjang’ oleh Chairil Anwar dan teman-temannya se-Angkatan ’45, justru dalam kesusastraan Using sudah ada Padha Nonton . . . yang dalam bentuk dan isi sama dengan yang dimaui oleh Chairil Anwar”.[5]

Namun, seperti kebanyakan sastra lisan yang penyebarannya dari generasi ke generasi berikutnya berlangsung secara tutur, syair gending-gending Seblang juga rentan mengalami pengurangan, penambahan, dan penyimpangan kata-katanya. Kita tidak pernah tahu apakah syair yang sampai pada generasi hari ini tidak mengalami ‘kerusakan’ dibandingkan dengan syair yang ada pada masa sebelumnya. Hal yang jelas pada masa kini terdapat beberapa varian gending-gending Seblang. Sebagai contoh, teks syair Padha Nonton dalam tulisan Hasan Ali berbeda dengan teks yang ada pada semacam buku informasi yang sangat mungkin ditulis oleh panitia penyelenggara Seblang Bakungan yang berjudul Upacara Adat Seblang. Pada teks yang ditulis Hasan Ali syair Padha Nonton terdiri dari empat bait sementara dalam buku Upacara Adat Seblang hanya memuat dua bait syair Seblang yang dalam tulisan Hasan Ali dijadikan dalam satu bait.

Tidak menutup kemungkinan syair gending-gending Seblang pada mulanya diciptakan menurut guru lagu dan guru wilangan tertentu mengingat gending-gending Seblang merupakan sastra lisan yang ditembangkan. Namun, karena perjalanannya yang panjang hingga sampai pada saat ini melalui tuturan dari mulut ke mulut mengakibatkan syair gending-gending Seblang mengalami ‘kerusakan’  baik dalam ketepatan menembangkannya apalagi penyalinannya menjadi teks tulis. Problem pada gending-gending Seblang ini mengingatkan pada hilangnya kemampuan mengartikulasikan tembang wukir dan tembang mahisa langit dalam naskah Sritanjung berhuruf pegon yang disinyalir oleh Suripan Sadi Hutomo. Problem ini juga terjadi pada pendarasan Mocoan yang menurut salah seorang pendarasnya di daerah Kemiren sesungguhnya ia tidak tahu menembangkannya dengan tepat dan terpaksa menembangkannya dengan versi macapat walaupun sesungguhnya seringkali kekurangan atau kelebihan satu sampai beberapa baris.
    
Hampir menjadi kesepakatan bersama di kalangan para pengkaji dan pemerhati sastra Using bahwa naskah Sritanjung, Sudamala, Sang Satyawan, gending-gending kuno Seblang dan Gandrung merupakan hasil karya sastra Using pada masa Blambangan, walaupun istilah Using sendiri baru muncul pada paruh pertama abad XX. Istilah Using yang digunakan untuk menyebut masyarakat Banyuwangi muncul pada tahun 1926 ketika Stoppelaar menggunakan istilah Blambangers atau Oesingers dalam Blambangansche Adatrecht. Tahun 1927 John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi menyatakan nama Using digunakan pada orang Blambangan oleh para pendatang, sedangkan orang Banyuwangi sendiri menyebut dirinya sebagai orang Jawa asli.

Sebelum dirintis sebagai identitas budaya pada tahun 1970-an dan mulai memantapkan statusnya  pada tahun 1990-an melalui kampanye masif dan tersistematis, bagi masyarakat Banyuwangi penyebutan Using kepada diri mereka adalah suatu penghinaan. Bernard Arps dalam Osing Kids and the banners of Blambangan, Ethnolinguistic identity and the regional past as ambient themes in an East Javanese town yang dimuat dalam Wacana Vol.11 No.1 (April 2009) menyatakan tahun 1974 di majalah berbahasa Jawa, Mekar Sari, Paman Goplang memperingatkan jika anda mau berlaku sopan hendaklah jangan menyebut masyarakat Banyuwangi sebagai Wong Using yang bagi mereka itu adalah julukan yang melecehkan. Sementara Endro Wilis, salah seorang pengarang lagu-lagu Banyuwangian ‘modern’ angkatan pertama, mengatakan bahwa istilah Using melumpuhkan jiwa, maksudnya istilah Using merupakan hasil rekadaya orang luar sejak zaman VOC untuk menghancurkan mental dan moral masyarakat Blambangan yang terkenal keras kepala dan tak mau tunduk begitu saja terhadap upaya penindasan[6]. Tiga puluh tahun sebelum ‘nasehat’ Paman Goplang, seorang peneliti Belanda yang menyebut dirinya sebagai ‘insider’ dalam laporannya menyatakan bahwa Using diambil dari istilah Bali ‘sing’ untuk menyatakan masyarakat Blambangan adalah ‘bukan manusia’[7]. Sampai sekarangpun sebutan Using ditolak oleh beberapa orang tua (75-an ke atas) di Banyuwangi.


Awal munculnya Using sebagai identitas kultural dan ‘bahasa’ daerah di Banyuwangi tak bisa dilepaskan dari kebijakan kultural rezim Orde Baru yang pada akhir tahun 60-an atau awal 70-an kewalahan menghadapi perilaku menyimpang anak-anak muda yang dianggap akibat dari pengaruh Barat. Salah satu kasus penyimpangan perilaku anak muda paling bejat dan yang paling disorot dan tak pernah diungkap tuntas sampai hari ini adalah kasus pemerkosaan gadis penjual telur di Solo, Sumarijem, yang dilakukan oleh anak salah seorang bangsawan keraton Surakarta dan anak salah seorang pahlawan revolusi yang terkenal dengan peristiwa Sum Kuning. Keprihatinan terhadap perilaku menyimpang anak muda yang dianggap karena pengaruh Barat ini melahirkan tindakan represif terhadap kalangan anak muda yang salah satu contohnya yang menggelikan adalah pelarangan rambut gondrong yang dilakukan secara sistematis oleh Orde Baru[8]. Pada sisi lain Orde Baru menggalakan penggalian kembali nilai-nilai tradisi melalui pelestarian dan revitalisasi kesenian-kesenian daerah[9]. Penggalakan kembali kesenian daerah di Banyuwangi, setelah melewati periode ‘bisu’ beberapa tahun sesudah peristiwa ’65 dan masa ‘pembersihan’, mendapatkan momentumnya ketika Presiden Soeharto meminta Bupati Banyuwangi, Djoko Supaat Selamet, menghidupkan kembali kesenian daerah Banyuwangi setelah ia menyaksikan seni angklung Banyuwangi pada kunjungannya ke Tapanrejo, Banyuwangi, pada tahun 1970. Sejak itu seni budaya Banyuwangi bergairah dan perjalanan panjang menegakkan Using sebagai identitas kultural daerah dimulai.

Periode pertama penegakan identitas ke-usingan, seperti pesan Soeharto kepada Bupati Supaat, adalah membersihkan jejak-jejak komunis pada kesenian-kesenian Banyuwangi seraya membangun dan mengembangkan nilai-nilai ideal tertentu. Novi Anoegrajekti mencatat pada laporan penelitiannya mengenai upaya-upaya untuk ‘memperbaiki’ peran, perangai, dan fisik tokoh antagonis Minakjinggo yang merupakan identifikasi karakter Using  dalam seni drama Damarwulan yang populer di masyarakat.[10] Pembersihan jejak-jejak komunis dilakukan dengan pembungkaman dan ‘mempertobatkan’ seniman-seniman Banyuwangi serta penyensoran, pelarangan, dan pendiskriditan karya-karya seni yang dianggap subversif. Hampir seluruh lagu-lagu M. Arief ‘menghilang’ dari masyarakat karena cap komunis. Sementara Genjer-genjer, salah satu lagu karya M. Arief yang dipuji oleh Nyoto dan memperoleh popularitas nasional pada masa Orde Lama, digambarkan sebagai lagu pengiring tindakan bejat dan keji dalam film G.30 S./PKI karya Arifin C. Noer yang menjadi film wajib tayang di TVRI setiap memperingati hari Kesaktian Pancasila. Seniman lain semasa M. Arief, Endro Wilis, terpaksa menghapus namanya pada lagu-lagu ciptaannya yang di’kasetkan’. Sementara salah satu lagu karyanya, Selendang Abang diganti tanpa sepengetahuannya menjadi Selendang Sutro karena ‘Abang’ (merah) identik dengan komunis. Pada periode yang disebut oleh Bernard Arps, dalam kajiannya tentang ethnolinguistik Using[11], masa persiapan transformasi ini terjadi perubahan besar dalam karakter dan semangat penciptaan syair lagu-lagu Banyuwangian. Tidak ada lagi syair-syair bertema kerakyatan yang disemangati oleh keberpihakan dan perlawanan terhadap penindasan dan penghisapan seperti yang dengan jelas terbaca pada syair lagu Nelayan ciptaan Endro Wilis dan Emas-emas ciptaan M. Arief. Sebagai gantinya muncul syair-syair dengan tema asmara, nasehat untuk hidup rukun, dan bahkan kampanye pembangunan.

Syair gending-gending Banyuwangian yang diciptakan pada masa 70-an seperti hendak ‘memurnikan’ kembali ciri khas sastra lisan Banyuwangi. Berbeda dengan syair lagu-lagu Banyuwangian yang diciptakan sebelum ’65 yang lebih lugas, syair lagu-lagu tahun 70-an, terutama yang diciptakan Andang C.Y dan Basir Noerdian, lebih sering menggunakan wangsalan, basanan, dan paribasan yang merupakan gaya puitik khas sastra lisan Using.

Pada tahun 80-an ketika industri rekaman mengalami booming pertama, irama angklung Banyuwangi tergeser oleh irama yang lebih mirip dangdut yang kemudian lebih dikenal sebagai kendang kempul. Watak industri yang mau merengkuh audiens (konsumen) yang luas, tak hanya berdampak pada mulai mendominasinya irama kendang kempul pada lagu-lagu yang diciptakan pada masa itu, namun juga berdampak pada gaya penulisan syair-syairnya. Gaya puitik basanan, wangsalan, dan paribasan dalam syair lagu-lagu kehilangan popularitasnya dan digantikan oleh keterusterangan yang nyaris vulgar. Pada masa ini, bersama pasang naik industri rekaman lagu-lagu kendang kempul, mulai terjadi ‘integrasi’ besar-besaran penduduk pendatang ke dalam masyarakat Using.

Pada tahun 80-an ini muncul puisi tulis Using dengan penyair-penyairnya seperti Slamet Utomo, Pomo Martadi, dan Uun Haryati. Contoh bagus puisi Using 80-an ini adalah Sisik Melik karya Uun Haryati.

Sisik Melik[12]

Melik-melik cunduke lare cilik
perawan cilik kang dikudang dadi sisik melik
wangine sak ara-ara
dadi kudangane wong sak desa
Kembang menur semembur sing ana kang nandur
Kembang melati diwanti-wanti hang ati-ati
Sekar tanjung wong kabeh padha njunjung
Kaya dibombong atine wong tuwek meromong
karepe wis gumantung ring nduwur mega
Sisik melik nyandhinge ndara wedana
Sekar taji tekane dipuji-puji
Nyatane duh eman
Sisik melik wis kadhung ana kang methik
dienggo tamba duh kakang
ngumbar hawa, nggiring kepaling
kelara-lara, kabare sing ana teka
Eluh mili emak bapak mung kari ndunga
pedhut gancanga ilang
wong sak desa milu kelangan
dijaluk mong siji, tetep gandholana
landhung pikir, kencenga iman

Banyuwangi, 23 Januari 1986

Hasan Basri menyatakan puisi Uun Haryati ini “. . .pekat dengan metafor alam, diksinya lebih setia pada kosa kata klasik, kaya akan hiasan basanan dan wangsalan, persajakannya lebih mengalun, nuansa magisnya sangat terasa”.[13] Namun jika diperhatikan secara seksama puisi Sisik Melik tersebut sesungguhnya puisi yang langsung atau terang benderang. Hanya terdapat beberapa kiasan seperti ‘sisik melik’ yang berarti kembang desa atau primadona dan ‘pedhut’ (mendung) yang berarti derita, yang itupun sebenarnya lazim digunakan jika tidak dapat disebut kilse. Sementara diksi-diksi seperti ‘kembang melati’, ‘kembang menur’, ‘sekar tanjung’, ‘sekar taji’ bukanlah perumpamaan dan fungsinya hanyalah untuk ‘kembangan’ dan menyesuaikan permainan bunyi, aliterasi dan asonansi, yang merupakan ciri puitik dominan dalam puisi ini. Beberapa baris puisi Sisik Melik yang repetitif seperti hendak meneladani tradisi puitik pada syair gending-gending Seblang dan Gandrung yang kuno meski tanpa kepelikan perumpamaan-perumpamaan yang berlapis. Puisi karya Uun Haryati ini tentu sangat kontras jika dibandingkan dengan syair lagu-lagu kendang kempul yang banyak menyerap diksi-diksi Jawa kulonan.


Tahun 1990-an merupakan periode paling menentukan bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra Using. Setelah Sarasehan Bahasa Using pertama tahun 1990 mulai dilakukan usaha-usaha kodifikasi bahasa Using yang diikuti dengan memasukan pelajaran bahasa Using di sekolah SD sampai SLTA, penerbitan brosur-brosur, bulletin dan buku berbahasa Using. Pada periode ini peran Hasan Ali, yang pada tahun 1970 adalah salah seorang yang ikut andil dalam penyusunan buku Selayang-pandang Blambangan pesanan Bupati Supaat guna menghimpun data historis dan etnografis Banyuwangi, menjadi tokoh sentral dalam perkembangan bahasa dan budaya Using secara umum. Ia bukan hanya berhasil meyakinkan bahwa bahasa Using bukanlah salah satu dialek bahasa Jawa tetapi bahasa tersendiri yang sejajar dengan bahasa Jawa berdasar disertasi Suparman Herusantosa. Ia juga mengintrodusir dan memberikan standar penafsiran atas syair gending-gending Seblang dan Gandrung. Walaupun sebenarnya tanpa data-data yang meyakinkan, namun tafsir perjuangan gerilya atas Seblang dan Gandrung menjadi tafsir yang diterima luas. Sifat heroik tafsir Hasan Ali ini mempunyai arti penting guna memberikan landasan positif untuk mengonstruksi Using sebagai identitas sosio-kultural Banyuwangi.[14]
  

Pada tahun 1990-an ini juga ditandai oleh Setya Yuwana Sudikan mulai tumbuhnya apa yang disebutnya sebagai puisi Indonesia yang diekspresikan dalam bahasa Jawa dialek Using. Ia menyebut puisi Isun Lare Using karya Adji Darmadji yang termuat dalam antologi puisi using berjudul Juru Angin sebagai tonggak pembaharu puisi Using. “Pembaharuan yang dibawa Adji bukan sekedar pada aspek pola persajakan, rima, majas, dan diksi, melainkan total sampai pada aspek tipografi, nuansa, dan makna utuh puisi”,[15] terang Sudikan. Padahal Isun Lare Using karya Adji Darmadji tersebut hanyalah puisi ‘pubertas’ pemberontakan yang bukan hanya gagap mengekspresikan diksi-diksi Using, bahkan susunan-susunan perumpamaan metaforalnya sangat kacau balau. Berbeda dengan puisi Fauzi Abdullah, Dadia Wis, yang lebih berhasil mengadopsi puisi lirik modern Indonesia.  

Dadia Wis[16]

Sakehe koma jejer negeri lakon
Saya adoh mang-mang nrawang
Ring wates garis plawangan
Isun lungguh nganggur dhewekan
Kantru-kantru nulih pecake cekapah
Ngitung-ngitung cekapah langkah
Awang uwung nggelari ati sun gerayang
Apa wis jaya pama gegableg tangan dalan
Atawa nggadug ring panggonan?
Sun liwati baen kaya watu ngglundhung
Kang arep teko
Dadia wis!
Kabeh sun gantung ring dhuwur kana

Surabaya Pos Minggu, 1 Juni 1992


Sastra Using bagaimanapun tak begitu saja berkait dengan Blambangan sebagai masa lalu Banyuwangi yang terus menerus diungkap sebagai zaman yang gilang gemilang. Lahirnya istilah sastra Using merupakan suatu hasil konstruksi kultural yang bersamanya kekuasan memainkan peran dominan untuk mewujudkannya. Pengaruh kebijakan Orde Baru dan kehendak untuk menegakkan identitas kedaerahan merupakan faktor penting yang melandasi munculnya sastra Using, selain faktor industri komersial yang banyak mempengaruhi pada periode 1980-an.
  

Pada akhirnya harus diakui tulisan yang serba terbatas ini tidak dapat membahas semua sastra yang dilisankan dan dituliskan di Banyuwangi. Misalnya, prosa lisan yang melimpah dan tradisi berpantun di tengah masyarakat Banyuwangi yang mempunyai ciri tertentu (basanan, wangsalan, paribasan) tidak mempunyai kesempatan untuk diketengahkan di sini. Tentu merugikan, namun hal ini tak terhindarkan.   



* * * * *
        


 * Versi lebih pendek tulisan ini dimuat di Majalah Sabana



Daftra Pustaka
-          Aria Wiratma Yudhistira, Dilarang Gondrong!, Tangerang: Marjin Kiri, 2010

-          Bernard Arps, Osing Kids and the banners of Blambangan, Ethnolinguistic identity and the regional past as ambient themes in an East Javanese town, dalam Wacana Vol.11 No.1 (April 2009)

-                                           Terwujudnya Bahasa Using di Banyuwangi dan Peranan Media di Dalamnya, dalam Mikihiro Moriyama dan Manneke Budiman Ed., Geliat Bahasa Selaras Zaman, Tokyo University for Foreign Languange, 2010
-          Endro Wilis, Istilah ‘Using’ adalah Racun yang Melumpuhkan Jiwa, Lembar Kebudayaan 10, Maret 2010.

-          Hasan Ali, Bahasa dan Sastra Using di Banyuwangi, makalah untuk Sarasehan Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Timur di Tulungagung, 13-14 Nopember 1993

-          Hasan Basri, Sekilas Tentang Sastra Using Banyuwangi, Makalah untuk Sarasehan Pemanfaatan Potensi Kebahasaan dan Kesastraan dalam Rangka Pembinaan dan Pembangunan Bahasa dan Sastra Daerah, 20 Juni 2010.

-          P.J. Zoetmulder, Kalangwan, Penerbit Djambatan, Jakarta 1983
-          Setya Yuwana Sudikan, M.A., Sastra Using di Banyuwangi, makalah untuk Seminar Bahasa Using

-          Sri Margana, Melukis Tiga Roh: Stigmatisasi dan Kebangkitan Historiografi Lokal di Banyuwangi, makalah untuk Konferensi Nasional Sejarah IX, Jakarta, 5 – 7 Juli 2011

-          Suripan Sadi Hutomo, Tembang Mahisa Langit? Orang Banyuwangi Masih Ada yang Ingat?, Surabaya Post, 10 Maret 1984.

-          Ikhwan Setiawan, Transformasi Masa Lalu dalam Nyanyain Masa Kini: Hibridasi dan Negosiasi Lokalitas dalam Musik Populer Using, dalam Kultur, September 2007

-          Novi Anoegrajekti, Kontestasi dan Representasi Identitas Using, dalam Humaniora, No.1 Februari 2011

-                                           Etnografi Sastra Using: Ruang Negosiasi dan Pertarungan Identitas, Makalah 2010
    



[1] P.J. Zoetmulder, Kalangwan, Penerbit Djambatan, Jakarta 1983 (hal. 540)
[2] Ibid. hal. 511
[3] Sejumlah budayawan Banyuwangi menolak pendapat jika kesusastraan Blambangan secara jumlah dan mutu kurang. Hasan Ali dalam makalah Bahasa dan Sastra Using di Banyuwangi untuk Sarasehan Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Timur di Tulungagung tahun 1993 , dengan berlandas pada pernyataan B. R. Anderson mengenai abad kegelapan Jawa tahun 1500 – 1750 karena peperangan, pembuangan, perampokan, pembantaian, dan kelaparan yang menyebabkan serba terbatasnya pengetahuan akan kebudayaan Jawa Kuno, menduga sebagian besar karya sastra aliran Banyuwangi hancur karena peperangan berkepanjangan dari tahun 1316 – 1772 di Blambangan.        
[4] Suripan Sadi Hutomo, Tembang Mahisa Langit? Orang Banyuwangi Masih Ada yang Ingat?, Surabaya Post, 10 Maret 1984.
[5] Hasan Ali, Bahasa dan Sastra Using di Banyuwangi, makalah untuk Sarasehan Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Timur di Tulungagung, 13-14 Nopember 1993
[6] Endro Wilis, Istilah ‘Using’ adalah Racun yang Melumpuhkan Jiwa, Lembar Kebudayaan 10, Maret 2010.
[7] Sri Margana, Melukis Tiga Roh: Stigmatisasi dan Kebangkitan Historiografi Lokal di Banyuwangi, makalah untuk Konferensi Nasional Sejarah IX, Jakarta, 5 – 7 Juli 2011
[8] Aria Wiratma Yudhistira dalam Dilarang Gondrong! (Marjin Kiri, 2010) melalui penelusuran berita-berita, wawancara, artikel, dan editorial di media massa cetak dan elektronik yang terbit di Indonesia pada akhiran tahun 60-an sampai pertengahan 70-an; instruksi-instruksi aparat pemerintah; mengungkapkan bagaimana Orde Baru secara sistematis ‘memerangi’ pengaruh budaya Barat (flower generations) di Indonesia yang salah satu kehadirannya secara simbolik ditandai dengan trend rambut gondrong di kalangan anak muda di Indonesia.  
[9] Pembangunan Taman Mini Indonesia Indah tahun 1971 yang merupakan miniatur dari rumah-rumah tradisional yang ada di seluruh provinsi di Indonesia (kebudayaan-kebudayaan daerah yang ada di Indonesia) adalah ekspresi simbolik yang monumental dari kebijakan menoleh kembali ke nilai-nilai lokal.   
[10] Novi Anoegrajekti, Etnografi Sastra Using: Ruang Negosiasi dan Pertarungan Identitas, Makalah 2010
[11] Bernard Arps, Terwujudnya Bahasa Using di Banyuwangi dan Peranan Media Elektronik di Dalamnya (Selayang Pandang, 1970-2009), dalam Mikihiro Moriyama dan Manneke Budiman ed., Geliat Bahasa Selaras Zaman, 2010
[12] Udharasa, Kumpulan Puisi using, 2010
[13] Hasan Basri, Sekilas Tentang Sastra Using Banyuwangi (hal. 12), Makalah untuk Sarasehan Pemanfaatan Potensi Kebahasaan dan Kesastraan dalam Rangka Pembinaan dan Pembangunan Bahasa dan Sastra Daerah, 20 Juni 2010.
[14] Baca Novi Anoegrajekti, Kontestasi dan Representasi Identitas Using, dalam Humaniora, No.1 Februari 2011 dan  Etnografi Sastra Using: Ruang Negosiasi dan Pertarungan Identitas, Makalah 2010
[15] Drs. Setya Yuwana Sudikan, M.A., Sastra Using di Banyuwangi (hal.23), makalah untuk Seminar Bahasa Using
[16] Ibid., (hal. 24)