Laman

Jumat, 18 Februari 2011

Dari M. Arief Sampai Catur Arum


Mungkin tak berlebihan jika dalam Gandroeng Van Banjoewangi John Scholte menulis bahwa masyarakat Banyuwangi dianugerahi bakat musikal secara alamiah. Sejak sekisaran abad XVIII yang dimulai dari tradisi lisan gending-gending gandrung klasik seperti Podho Nonton dan Jaran Dhawuk hingga lagu-lagu ciptaan Yon D.D dan Catur Arum yang dikasetkan dan di-vcd-kan, masyarakat Banyuwangi tak berhenti memproduksi dan menikmati lagu-lagu ciptaannya sendiri. Tentu saja setiap penggubahan lagu-lagu Banyuwangian memiliki ciri dan karakteristik yang berbeda dalam tema dan warna musik pada setiap kurun masa tertentu. Hal ini tentu bisa dapahami karena bukan saja setiap jaman memiliki jiwa yang berlainan, namun cara produksi dan distribusi hasil-hasil gubahan juga ikut menentukan bagaimana sebuah lagu digubah. 

Dari sekian banyak penggubah lagu-lagu Banyuwangian, Muhammad Arief bisa dikatakan sebagai seniman yang menjadi penanda batas antara masa gending-gending klasik dengan masa lagu-lagu modern Banyuwangian. Bukan saja M. Arief adalah seniman pertama yang mencantumkan nama pada lagu-lagu gubahannya dan menuliskan notasi lagunya dengan notasi ji, ro, lu, pat, mo, nem dengan instrumen angklung (menurut Achmad Aksoro). Tema syair yang digubahnya pun sudah berbeda dengan syair gending-gending klasik yang cendrung erotik dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan alam. Syair-syair dalam lagu-lagu M. Arief cenderung lugas dan tandas, baik itu mengenai alam seperti lagu Manuk Bethet dan Semrewing Kembange Kopi atau mengenai bidang-bidang produksi dalam masyarakat seperti Nderes Karet dan Nandur Jagung. Kelugasan dan ketandasan M. Arief makin kentara dalam syair lagu yang mendeskripsikan keadaan masyarakat semasanya semisal lagu Lurkung yang menggambarkan keadaan masyarakat Banyuwangi pada masa pendudukan Jepang. Berikut dua bait petikan syair lagu Lurkung untuk mengetahui ketandasan dan kelugasan syair M. Arief:
Kung Nggolet Lurkung (Kung cari lurkung)
Jaman Jepang boyok melengkung (Jaman Jepang punggung melengkung)
King nggolet bekingking (King cari bekingking)
Bekicot diwadahi piring (Bekicot disaji di piring)

Kang koyo kongkang (Kang bak kongkang)
Jaman Jepang akeh wong mbangkang (Jaman Jepang banyak orang telanjang)
Kong koyo jerangkong (Kong bak jerangkong)
Jaman jepang wong sing ulih ngomong (Jaman Jepang orang dilarang ngomong)
Dalam cara (re)produksi pun lagu-lagu M. Arief sudah jauh berbeda dengan gending-gending klasik yang di(re)produksi secara lisan. Beberapa lagu M. Arief, Genjer-genjer yang banyak dikenal misalnya, di(re)produksi di atas piringan hitam dan dinyanyikan oleh Lilies Suryani atau Bing Slamet. 

Ciri dan karakteristik tema syair M. Arief ini tak jauh berbeda dengan penggubah lagu Banyuwangian yang kemudian, bisa dikatakan seangkatan, yaitu Endro Wilis.  Namun, meski gubahan lagu-lagu Endro Wilis juga mendendangkan alam, syair dalam lagu-lagu Endro Wilis lebih didominasi oleh gambaran kondisi sosial masyarakat dan berbagai profesi masyarakat kecil yang merefleksikan pengalaman biografis dan nilai-nilai tertentu. Kadang refleksi pengalaman biografis itu terdengar sinis seperti bait syair dalam lagu Butol Karung berikut:
Man, Paman butol karung (Man, Paman tukang loak)
Angger liwat hun eling awak (Tiap lewat ku insyaf diri)
Saiki hun magih kuwasa (Sekarang ku masih kuat)
Mbisok goq wis leren dadi kaya barang rombengan (Kelak bila sudah lengser jadi seperti barang rombeng)
            Berbeda dengan lagu-lagu gubahan M. Arief dan E. Wilis yang syairnya banyak menggambarkan keadaan sosial masyarakat kecil secara lugas dan tandas. Lagu-lagu gubahan BS. Nurdian yang syairnya seringkali ditulis oleh Andang C.Y. lebih banyak bersifat liris dengan mengajukan pertanyaan tentang kehidupan dan nilai kehidupan secara filosofis melalui perlambang alam semisal lagu Kembang Galengan. Namun, persamaan dari para penggubah lagu Banyuwangian modern angkatan pertama tersebut, termasuk Mahfud Hariyanto yang merupakan penggubah pertama yang menggunakan notasi do, re mi (menurut Achmad Aksoro), adalah syair-syairnya hampir tak pernah jatuh pada kesenduan hubungan asmara pria dan wanita.

Tema-tema tentang hubungan asmara antara pria dan wanita menjadi dominan pada lagu-lagu Banyuwangian yang digubah oleh para penggubah angkatan berikutnya yang banyak berdomisili di wilayah Banyuwangi Selatan, Genteng. Syair lagu-lagu yang digubah oleh penggubah semisal Hawadin, Sutrisno, dan Andi Suroso menggunakan bahasa yang seronok dengan warna musik yang lebih dekat dengan irama dangdut. Pada masa inilah dikenal istilah Kendang-kempul untuk lagu-lagu Banyuwangian. Syair-syairnya yang memilki kecenderungan hendak memikat khalayak, dengan bahasa yang seronok dan terkadang diselipi istilah yang vulgar, merepresentasikan suatu kebangkitan industri rekaman lokal pada masa itu. Kebangkitan industri rekaman lokal ini mendampakan peran pasar yang kuat dalam proses penciptaan dan menambahkan nilai ekonomis dalam hubungan antara penggubah dan penikmat lagu-lagu Banyuwangian sebagai hubungan antara produsen dan konsumen. Dalam syair-syair yang digubah oleh penggubah-penggubah dari Genteng ini hampir tak ditemui tema-tema alam dan gambaran sosial yang merepresentasikan aktifitas produksi masyarakat. 

Tema-tema hubungan asmara antara pria dan wanita yang cenderung mendominasi syair lagu-lagu yang digubah penggubah-penggubah dari wilayah Genteng berlanjut pada syair lagu-lagu Catur Arum, Yon D. D atau Adies yang merupakan angkatan penggubah lagu Banyuwangian masa kini. Namun, kini tema-tema tersebut didendangkan lebih mendayu-dayu, seperti pada lagu Semebyar, Telung Segoro, dan Turu Nang Dadane. Bersamaan dengan makin berkembangnya industri rekaman yang diikuti distribusi produksi yang makin luas, warna musik yang mereka produksipun makin beragam, seperti masuknya unsur bossas dan langgam jawa. Bahkan mereka juga memproduksi versi remix atau dangdut. Hal yang patut dicatat pada angkatan penggubah lagu Banyuwangian ini adalah tumbuhnya “kesadaran” akan nilai komoditas pada lagu-lagu yang mereka gubah. Oleh karenanya mereka lebih rapi dalam urusan manajerial dari angkatan pendahulunya. Bahkan Adies memilih untuk berusaha memproduseri produksi rekaman lagu-lagunya sendiri, baik dalam format kaset atau vcd. Berbeda dengan angkatan pendahulunya yang hanya bertindak sebagai penggubah, angkatan penggubah lagu Banyuwangian masa kini juga menyanyikan sendiri lagu-lagu gubahannya, baik bersama grup yang dibentuknya maupun dengan kelompok-kelompok yang lebih longgar. Meski syair-syair dalam lagu-lagu angkatan mutakhir ini kurang menggunakan bahasa yang seronok dan istilah-istilah yang vulgar, namun seperti para lagu-lagu dari wilayah Genteng, tema-temanya jauh dari gambaran alam atau sosial yang mempresentasikan relasi ekonomi dalam aktifitas produksi masyarakat. Tema-temanya bahkan makin dekat dengan lagu-lagu barbahasa Indonesia yang dibawakan oleh grup-grup populer nasional seperti Peterpan atau Ungu.

Hari ini produksi rekaman lagu-lagu Banyuwangian dengan berbagai format rekam mengalami kemajuan kuantitatif yang luar biasa. Distribusi produksi rekaman lagu-lagu Banyuwangian makin luas hingga ke luar dari wilayah Banyuwangi, seperti Jember, Situbondo, Bondowoso, bahkan sampai ke luar propinsi Jawa Timur. Namun persoalan sama yang tetap merundung para penggubah lagu Banyuwangian dari semua angakatan adalah sebagian besar dari karya kreatif mereka tak mendapatkan perlindungan hukum yang layak. Sehingga sebagian besar penggubah lagu Banyuwangian tak berdaya dihadapan perusahaan bisnis rekaman dan para pembajak. Sebagian besar dari mereka pun sering tidak mendapatkan apa-apa dari berbagai kegiatan ekonomis yang melibatkan lagu-lagu mereka. Bahkan, baru-baru ini lagu-lagu Umbul-umbul Blambangan yang memenangkan sebuah festival Internasional di luar negeri, Tahiland, tidak mencantumkan BS. Nurdian sebagai penggubah lagu tersebut. Apakah para penggubah lagu Banyuwangian harus menjadi presiden terlebih dahulu untuk memperoleh perlindungan hukum atas karya kreatif mereka, agar mereka dapat memperoleh nilai ekonomis sepatutnya yang timbul dari lagu-lagu gubahan mereka?       

1 komentar: