Laman

Rabu, 18 April 2012

Dari Gending Seblang yang Magis sampai Dangdut Koplo



Oleh: Dwi Pranoto



Dengarlah dia menyanyikan gendingnya, “Cengkir Gading” dan menggerakan kipasnya, lalu rakyat Blambangan yang dewasa dan masih anak-anak mengalir ke suatu tempat dan di luar kesadaran mereka riwayat yang telah lampau diproyeksikan kembali, irama yang gembira dari tarian Ciwa di Chidambaram, tariannya si Gandri di Cungking, pusat dari segala-galanya, yakni dalam hati manusia.  (Gandroeng Van Banjoewangi, John Scholte, 1927)






  

































Sejak jaman Blambangan kuno hingga Banyuwangi modern masyarakat Using tak kehabisan gending-gending untuk didendangkan; dari gending-gending Gandrung yang diwarisi dari Seblang ke gending-gending Angklung Paglak yang disenandungkan di ketinggian pondok pengusir burung di persawahan lantas turun ke Angklung Caruk yang penuh tempik lantas ke piringan hitam sampai kaset dan vcd. Namun tentu saja gending-gending Banyuwangian memiliki karakteristik berbeda ditiap zamannya. Gending-gending Seblang yang berfungsi sebagai elemen ritual memiliki irama berulang yang ritmis. Syair-syairnya dibangun dari pasemon dengan kiasan berlapis-lapis serta menggambarkan kehidupan masyarakat, seringkali erotik, yang dinafasi oleh tanah persawahan. Sementara Gandrung, yang sejak masa Gandrung pria telah berfungsi sebagai hiburan atau seni tari pergaulan, menyanyikan gending-gending sembarang – kecuali di babak awal dan akhir pagelaran – oleh karena melayani permintaan gending-gending dari pemaju (pengibing). Karena tidak ada gending yang diciptakan khusus untuk pagelaran Gandrung, pada dasarnya gending-gending Gandrung tak memiliki ciri khas tertentu. Musik Angklung Banyuwangi barangkali bisa dikatakan sebagai seni musik peralihan dari gending-gending klasik Seblang yang ritmis,magis dan erotis ke lagu-lagu banyuwangian modern. 

Musik angklung Banyuwangi berawal dari angklung paglak yang dimainkan di ketinggian bangunan pondok pengusir burung saat padi di persawahan mulai menguning. Angklung paglak terdiri dari dua ancak yang masing-masing terdiri dari tiga belas potong bambu tersusun berjajar dari nada rendah ke tinggi; satu ancak pembawa gending dan satu ancak lainnya ngeleboni gending. Angklung paglak juga dimainkan di tempat terbuka, seperti halaman rumah, pada tanggal 14, 15, 16, di tiap bulan pada penanggalan lunar atau pada saat bulan purnama. Gending-gending yang dimainkan dengan angklung paglak adalah gending-gending Gandrung.

Pada perkembangan berikutnya, karena pengaruh Bali, perangkat angklung paglak mengalami penambahan instrumen yakni, slenthem, saron, peking, kendang dan gong yang semua terbuat dari besi. Angklung paglak yang mengalami penambahan sejumlah instrumen ini kemudian disebut tabuhan bali-balian. Angklung kemudian tak hanya dimainkan di atas pondok pengusir burung atau pada saat bulan purnama, tapi juga dimainkan untuk hiburan pada saat hajatan, sunatan atau perkawinan. Pada saat hajatan  biasanya ditanggap dua kelompok angklung dimana dua kelompok angklung tersebut saling beradu ketangkasan, kecermatan, dan kejelian dalam menebak lagu. Permainan saling menebak gending dalam partunjukan angklung ini disebut angklung caruk. Di masa pertunjukan angklung, terutama setelah jaman Jepang, banyak digubah gending-gending baru yang diciptakan oleh Mohamad Arief, Endro Wilis dan Mahfud. Mulailah babak baru musik “modern” Banyuwangi, pertanda paling kentaranya adalah gending-gending tak lagi diciptakan secara anonim seperti di masa Seblang tapi lagu-lagu telah dikenali siapa penciptanya. Lagu-lagu angklung tak lagi bersifat lisan namun dituliskan dengan syair dan notasi lagu; Mohamad Arief menuliskan dengan notasi ji, ro, lu, pat, mo, nem, sedang Mahfud dianggap paling mula menggunakan notasi pentatonis.


Mohamad Arief & Endro Wilis Sang Perintis
Telah sejak masa penjajahan Belanda M. Arief memiliki perangkat angklung dan sekaligus menjadi pemimpin kelompok angklung. Pada masa itu kelompok angklungnya selain main di panggung-panggung hajatan juga sering diundang main di serambi depan gedung bioskop. Kelompok angklung M. Arief menjadi penanda jika bioskop sedang memutar film Jawa (istilah untuk film yang menceritakan kisah Indonesia dan diperankan oleh orang Indonesia di masa itu). Namun, bersama dengan kedatangan balatentara Jepang di tahun 1942 yang bersama itu pula Jepang menguasai dan mengendalikan sarana-sarana umum maka kelompok angklung M. Arief mulai sepi undangan. Akan tetapi, di masa sepi tanggapan itulah M. Arief mempunyai lebih banyak waktu luang untuk sendiri dan mengarang lagu-lagu.

Lagu-lagu yang dikarang oleh M. Arief untuk dimainkan kelompok angklungnya berbeda dengan gending-gending Gandrung dan Seblang. Walaupun pada bentuk dasarnya syair-syair lagu karangan M. Arief masih mempunyai pertalian dengan gending-gending Gandrung dan Seblang, yakni berbentuk pengulangan seperti wangsalan (istilah Banyuwangi untuk pantun), namun syair lagu-lagu M. Arief telah meninggalkan gaya pasemon dengan kiasan yang berlapis-lapis. Syair lagu-lagu karangan M. Arief lebih sering lugas, jenaka dan kadangkala ironis dengan irama lagu yang girang seperti irama gending-gending dolanan. Gaya khas M. Arief ini bisa disimak dalam lagu-lagu karangannya seperti Genjer-genjer, Don-adone Sumping, Sekolah, atau Lurkung. Tema syair lagu-lagu M. Arief mengungkap kehidupan masyarakat jelata, kesulitan dan kepahitan hidup yang dialami akibat relasi produksi yang timpang atau praktik penghisapan penguasa tanpa jatuh pada keputusasaan. Seringkali kritik dilancarkan dengan cara jenaka, seperti pengungkapan kesulitan pangan di jaman pendudukan Jepang dalam lagu Lurkung yang tajam kritiknya bisa disebandingkan dengan kidungan Cak Durasim walaupun disampaikan dengan jenaka. Simaklah dua baris syair lagu Lurkung berikut:
 Kung golet lurkung / Kung cari lurkung
Jaman Jepang boyok melengkung / Jaman Jepang punggung melengkung

Sebagaimana M. Arief, lagu-lagu Endro Wilis juga mengungkapkan kepahitan hidup rakyat jelata akibat ketakadilan dalam relasi produksi. Namun kritik dalam syair lagu-lagu Endro Wilis dilancarkan dengan lebih tandas dan meradang, seringkali diekspresikan dengan irama mars yang menggebu seperti dalam lagu Podho Nginang dan Nelayan. Namun sesudah tahun 1965, setelah peristiwa politik yang merenggut banyak hal dari kehidupan pribadi dan sosialnya, syair lagu-lagu Endro Wilis menjadi lebih biografis-kontemplatif, sarat dengan pertimbangan-pertimbangan filosofis dalam bahasa kias yang agak pekat seperti dalam lagu Dhonge Mekar dan Jaran Ucul. Namun, jika M. Arief tak punya kesempatan untuk mengungkapakan kesaksiannya dalam lagu mengenai kemelut politik ’65 karena ia sendiri menjadi salah satu korban hilang. Endro Wilis yang pada saat kemelut ’65 berada di Kalimantan dalam tugas ketentaraan saat konfrontasi Indonesia-Malaysia sempat menumpahkan kegirisannya dari kejauhan dalam lagu Mbok Irat . Situasi teror yang dipenuhi dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan itu ia ungkapkan dengan dua kata: dinone gemigil (hari yang menggigil).


Setelah Kemelut ’65
Banyuwangi mengalami masa “sunyi” pada tahun 1966 sampai 1970-an. Seniman-seniman dan kelompok-kelompok kesenian yang pada masa jaya “ideologi” banyak bergabung dalam lembaga-lembaga kebudayaan milik  partai politik, terutama Lekra, menanggung dampak berat dari kemelut politik ’65 yang bahkan banyak diantara mereka yang tak memahaminya. Anggota masyarakatpun mengunci mulutnya, menahan dorongan gairah bernyanyi dalam tubuh yang diwarisi dari kakek buyut semenjak masa Blambangan kuno.

Baru pada tahun 1980-an muncul pencipta lagu-lagu seperti Hawadin, Sutrisno dan Andi Suroso dari Banyuwangi Selatan, Genteng. Namun tema-tema lagu-lagunya telah bergeser jauh dari angkatan pengarang lagu sebelumnya. Dengan irama yang lebih dekat dengan musik pop-dangdut dan pop-mandarin, para pencipta lagu dari Genteng lebih banyak menyuguhkan tema-tema asmara antara pria dan wanita, terutama remaja. Pada masa inilah dikenal istilah kendang kempul. Jenis kendang kempul sarat dengan syair yang cenderung hendak memikat khalayak dengan bahasa yang gampang dan bahkan terkadang vulgar ini menandai suatu kemunculan industri rekaman lokal pada masa itu. Salah satu lagu populer pada tahun 80-an adalah Rehana. Lagu-lagu yang diciptakan pada tahun 80-an ini juga seringkali menjadi corong kampanye pembangunan pemerintah.  

Tema-tema asmara remaja yang mendominasi lagu-lagu ciptaan para pengarang lagu dari Genteng ini berlanjut dalam lagu-lagu ciptaan Catur Arum, Yons D.D dan Adistya Mayasari yang merupakan angkatan penggubah lagu banyuwangian masa kini, angkatan 2000. Namun, irama lagu-lagu masa kini lebih menyerap pengaruh irama yang beragam; dari langgam Jawa, bossas, blues sampai dangdut koplo. Hal yang patut dicatat pada angkatan terbaru ini adalah tumbuhnya “kesadaran” akan nilai komoditas dalam lagu-lagu yang mereka ciptakan. Oleh karenanya mereka lebih rapi dalam urusan manajerial dari angkatan pendahulunya. Bahkan diantara para pencipta lagu, seperti Adistya Mayasari, memilih memproduseri sendiri produksi rekaman lagu-lagu ciptaannya. Angkatan terbaru ini juga dikenal dengan jenis musik patrol orchestra. Pelopornya grup Patrol Orkestra Banyuwangi yang digawangi oleh Catur Arum dan Yons D.D dengan lagu hitsnya Layangan dan Semebyar.  

Hari ini produksi rekaman lagu-lagu Banyuwangian dengan berbagai format rekam mengalami kemajuan kuantitatif yang luar biasa. Distribusi produksi rekaman dan popularitas lagu-lagu Banyuwangian makin luas hingga ke luar dari wilayah Banyuwangi. Bahkan  Namun persoalan sama yang tetap merundung para penggubah lagu Banyuwangian dari semua angakatan adalah sebagian besar dari karya kreatif mereka tak mendapatkan perlindungan hukum yang layak. Sebagian besar dari mereka pun sering tidak mendapatkan apa-apa dari berbagai kegiatan ekonomis yang melibatkan lagu-lagu mereka.              

* * * * *


                    

                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar